Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 9

Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 9by adminon.Cerita Sex Taman Sang Dewi – Part 9Taman Sang Dewi – Part 9 Piece 8 (Bidadari Sunyi Yang Mencumbui Kehampaan) Disebuah ruangan Rencana Kepulan asap menyembul dari bibir seorang pria yang sedang mengapit sebatang cerutu. Mengkabutkan lampu kristal yang bergelantuk di atas pria tersebut. Tatapannya kosong dengan kepala yang menghadap keatas. Trap.traptrap, langkah yang pelan namun bertenaga datang dari arah belakang pria […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-7 (3) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-8 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-9 (3)Taman Sang Dewi – Part 9

Piece 8 (Bidadari Sunyi Yang Mencumbui Kehampaan)

Disebuah ruangan

Rencana

Kepulan asap menyembul dari bibir seorang pria yang sedang mengapit sebatang cerutu. Mengkabutkan lampu kristal yang bergelantuk di atas pria tersebut. Tatapannya kosong dengan kepala yang menghadap keatas.

Trap.traptrap, langkah yang pelan namun bertenaga datang dari arah belakang pria yang sedang mengepulkan asap cerutu.

Gimana perempuan yang aku rekomendasikan ? pria itu bertanya seraya membentuk lingkaran pada asap dari mulutnya.

Hhmmm, pria yang berjalan tadi duduk di depannya lalu mengambil sebatang cerutu yang ada di meja, aku sangat mengenalnya Robi.

Maksudmu apa Bardan ? Robi mempertegas.

Diakah perempuan bayaran yang ingin kamu nikahi ? Bardan tak menjawab, dia tersenyum simpul seraya menjentikan korek api.

Yeah, tapi dia tidak menginginkannya, Robi tersenyum kecut.

Fuuuuhhh, asap menyembur dari mulut Bardan, aku bisa membuatnya mau kamu nikahi.

Robi setengah terkejut, pandangannya beralih dari lampu kristal menuju wajah licik Bardan lalu bertanya kembali, bagaimana caranya ?

Bardan tersenyum, mengeluarkan ponsel dari saku bajunya, lalu mengutak-ngatik sejenak menu dalam ponselnya tersebut.

Lihatlah !!! Bardan menyodorkan ponselnya kepada Robi.

Robi hanya tersenyum simpul melihat rekaman pergumulan antara Bardan dan Safira, kamu mau buat fuck report ?

Bodoh, Bardan mengejek ini aku mengambilnya diam-diam, dan tadi aku bilang kalau aku sangat mengenalnya.

Lalu ?

Dia keponakanku dan aku tau dimana tempatnya berkuliah, Bardan mengambil kembali ponselnya lalu menghentikan rekaman videonya.

Kamu punya rencana kepada keponakanmu sendiri ?

Jika kamu ingin menikahinya, kamu ancam saja untuk menyebar video ini di kampusnya, atau kamu beritahu dewan universitas, kamu tau resiko jika itu tersebar, Bardan menghisap cerutu dalam-dalam, menarik asapnya hingga memenuhi paru-paru.

Dikeluarkan.

Bener banget, Bardan menarik cerutu dari apitan bibirnya, lalu menunjuk wajah Robi penuh semangat.

Kamu tega berbuat itu pada keponakanmu sendiri ? Robi sebenarnya ragu, tapi juga sangat menginginkannya.

Itu urusanku, lagi pula gak mungkinlah dia menolak jika sudah terpojok seperti itu. Mau tidak mau dia akan menikah denganmu, Bardan menyandarkan tubuhnya, menikmati cita rasa cerutu yang dia hisap.

*****
Inginku teriak, hatiku melara-lara

Juni 2008

Yakin nih mau pergi ? Dewi memegang erat tangan Kazam yang sudah lengkap dengan pakaian loreng dan tas ransel.

Sebelum pergi bertugas ke negara nun jauh disana, Kazam menyempatkan diri mengunjungi Dewi, hanya sekedar untuk pamitan.

Ini kan tugas aku, Kazam merangkul tubuh Dewi, mencium rimbunan rambutnya yang indah. Kan begitu aku pulang Desember nanti kita nikah.

Iya aku tau, Dewi masih ingin berlama-lama, walaupun dia sudah sering ditinggal Kazam bertugas ke berbagai tempat.

Aku memimpikan perdamaian di dunia ini, dari dulu aku sangat ingin menjadi pasukan perdamaian dunia, menjadi penengah konflik kedua kubu yang sedang bertikai. Walaupun peranku kecil, tapi inilah hal kecil yang bisa aku lakukan untuk dunia yang penuh dengan kebencian ini.

Tapi, aku gak mau sendirian, Dewi masih merengek.

Kok kayak anak kecil gini sih, Kazam menggoda Dewi, mencubit pipinya gemas.

Gak tau, Dewi menenggelamkan wajahnya di dada Kazam, bergelendot manja. Tau-tau kali ini kayaknya berat banget jauh sama kamu, apa karna ini pertama kalinya kamu tugas ke luar negri.

Hehehe, dasar anak manja, Kazam mempererat pelukannya.

Biarin, wek, Dewi melingkarkan tangannya membalas pelukan erat Kazam, jangan pergi ya !!!

Terus aku disini aja gitu ?

Iya, aku akan peluk kamu terus biar kamu gak kemana-mana, pelukan Dewi semakin erat namun lembut. Gak tau kenapa, kali ini aku benar-benar gak mau kamu pergi.

Ya udah aku gak jadi pergi deh, Kazam tersenyum.

Masa, Dewi mendongak, menatap wajah Kazam yang lebih tinggi darinya.

Iya, nanti aku telepon atasanku, hehehe.

Dewi melepas pelukan Kazam, layaknya anak kecil dia melompat kegirangan seraya menepuk tangannya, asik.

Terus kalau aku gak jadi pergi, kita mau ngapain ?

Manja-manjaan, kembali Dewi menghamburkan pelukannya.

Dasar anak kecil.

Hehehehe.

Karna kamu sekarang jadi anak kecil, gimana kalau kita main petak umpet ?

Lah, Dewi sedikit bingung dengan ajakan Kazam.

Iya, mau gak ? Kazam mendorong Dewi pelan, melepaskan pelukannya.

Boleh, ayo suit, yang kalah jaga !! Dewi nampak bersemangat, menyodorkan tangannya.

Telunjuk-Jempol

Hahaha, aku menang, Kazam terawa girang, Dewi hanya cemberut.

Dengan langkah malas Dewi menghadap tembok lalu menempelkan wajahnya pada tembok kemudian mulai menghitung dari 1-10.

Kazam mulai melangkah menjauhi Dewi, dengan perlahan Kazam mulai meninggalkan rumah Dewi. Berat baginya meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya. Namun ini adalah tugas yang sangat penting baginya, walau Dewi tak kalah penting buatnya.

Langkahnya tak terdengar, semakin lama semakin menjauh hingga dia tak dapat melihat Dewi yang masih menghitung.

Dan ketika Dewi selesai menghitung, dia mulai mencari Kazam kesetiap sudut rumah. Mencari dengan hati yang riang, tapi itu hanya bertahan sebentar saat Dewi tidak menemukan kekasihnya itu. Langkahnya mulai terlihat putus asa, matanya mulai berkaca-kaca, dia sadar kalau Kazam sudah tidak ada di rumahnya.

Desember 2008

Bandara Halim Perdana Kusuma

Bulan Desember yang kunantikan
Hanya harap hampa.
Mengusik mimpi-mimpi,
Senyumku pergi lagi
Pesawat sudah berada pada landasan, prajurit-prajurit berbaris rapi menyambut kedatangan para tentara dari dalam pesawat. Di kejauhan nampak keluarga yang menanti kepulangan mereka.

Rombongan prajurit turun dari pesawat, membentuk 2 barisan rapi, beberapa prajurit nampak membawa sebuah peti mati, berselimutkan bendera merah putih dan juga rangkaian mawar yang menghiasi peti tersebut.

Prajurit yang paling depan memegang foto seorang pria yang berada dalam peti mati, pria gagah dengan tatapan mata yang tajam.

Beberapa orang tentara terlihat memegang senjata berjalan mengiringi tentara yang sedang memikul peti mati.

Hikhik..hik, air mata tak pernah berhenti menetes dari mata indah Dewi.

Sabar ya Dew, semua udah takdir, ibunda Kazam merangkul Dewi, menyandarkan kepala Dewi di bahunya.

Kazam, Dewi melepas pelukan ibunda Kazam, berlari menghampiri kerumunan tentara yang berjalan rapi.

Serentak para tentara berhenti, Dewi mengedor-gedor peti mati yang berisi jenasah kekasihnya itu, waktu itu kita kan belum selesai mainnya, aku tau kamu sedang bersembunyi disini, keluar Kazam, kamu udah ketahuan, sekarang gantian kamu yang jaga.

Ingin kuteriak hatiku melara,lara.
Memang begini takdirmu untuk apa semua kata
Kau titip di hatiku
Dewi terus menerus menggedor peti mati, hatinya belum ikhlas menerima kepergian kekasihnya untuk selama-lamanya, cepet keluar Kazam, kamu gak perlu bersembunyi lagi, kamu harus jaga, aku yang bersembunyi.

Tentara-tentara yang hatinya sekeras baja pun mulai berlinang menyaksikan raungan kesedihan yang bergema di bibir Dewi. Bahkan tangan dan kaki mereka sedikit bergetar, seolah dapat merasakan getaran kepedihan yang menyelimuti Dewi.

Yang kupegang hanya kata
Bukan janji-janji indah
Yang membuat aku lupa diri
Tatapanku kian jauh kuharapkan bayanganmu
Tapi tiada kunjung jua
Seorang tentara menghampiri Dewi, dengan wajah yang penuh kesedihan, dia memberikan secarik kertas, ini dari Kazam, sehari sebelum kematiannya dia menitipkan ini untukmu, sepertinya dia tau waktunya akan segera berakhir.

Dewi meraihnya, dengan wajah yang layu, serta isak tangis yang tak kunjung reda dia membuka kertas untuknya.

Tembok usang beratapkan langit.
Dikegelapan malam gulita
Bercahaya hanyalah bintang-bintang
Selimut kita angin malam

Maaf sayang ku pinta padamu
Bukan tiada cinta dihatiku
Tapi belum takdir bagi kita
Untuk meminangmu

Biarpun jasad aku terkubur
Kau tetap ku cintai.
Masa kini.

Dikelilingi hujan dan tetesan air mata.

Vw Safari hijau baru saja terparkir di garasinya. Khafi turun dari mobil lalu menghampiri Dewi yang duduk di taman pinggir kolam ikan, di temani sebatang rokok dan sekaleng bear.

HHmmm, Khafi duduk di sebelah Dewi, mengambil sebatang rokok dari bungkus yang tergeletak di taman, lalu memandang langit yang pekat Mau hujan nih.

Yeah, Dewi meraih kaleng bear lalu meminumnya, matanya terlihat merah.

Bodoh ya, Khafi mengamati bungkus rokok dalam genggamannya, seraya menarik rokok dalam-dalam jualan rokok kok di tulisin peringatan bahaya untuk perokok.

Lebih bodoh lagi kita, udah tau ada peringatan tapi masih aja di beli, Dewi menyahut tanpa menoleh ke arah Khafi.

Tapi ribuan orang berhenti merokok setiap tahunnya lho, Khafi menghembuskan asap rokok ke udara.

Karna peringatan di bungkus rokok ?

Bukan, Khafi menjawab, tapi karna mereka semua mati.

Dewi tertawa pelan, memandang langit gelap yang semakin pekat, angin bertiup kencang meriapkan rambutnya hingga berantakan.

Kalau itu membuat aku lebih cepat bertemu dengannya kenapa enggak, Dewi menghela nafas panjang, menghilangkan sesak di dada.

Apa dengan ini, Khafi meraih kaleng bear dari genggaman Dewi, kamu dapat meringankan bebanmu ?

Kali ini Dewi menatap Khafi yang terlihat serius, mungkin.

Kalau begitu, biar aku ikut meringankan bebanmu, Khafi tersenyum lalu sedetik kemudian dia tenggang bear yang ada di dalam kaleng.

Wajahnya langsung memerah dan dahinya mengerenyit saat cairan mengandung alkohol itu mengalir membasahi lidahnya lalu melewati tenggorokannya. Rasa pahit, manis serta asam bercampur di lidahnya.

Bulir-bulir air hujan mulai jatuh dari langit membasahi bumi, mengenai tubuh Khafi dan Dewi. Membuat rokok di bibir mereka basah dan mati.

Mereka saling bertatapan, membiarkan hujan melarutkan kepedihan yang selalu teringang di hati Dewi. Hembusan angin yang berpadu dengan siraman hujan, membuat mereka menyadari satu sama lain.

Mereka seperti bait syair, yang saling memanggil nama mereka, dalam setiap kedipan mata yang saling berpandangan. Mereka bagai desiran udara, yang menyelubungi paru-parunya, dalam setiap helaan tatapan lembut mereka.

Khaf.

Ya.

Makasih, hikhik, Dewi terisak, pedih yang dirasa sedikit teduh melihat wajah Khafi dihadapannya.

Khafi tersenyum, Dewi merebahkan kepalanya di bahu Khafi. Dengan lembut jemari Khafi membelai rambut Dewi yang terjuntai basah.

Tercium aroma parfum khas dari seorang Dewi berhamburan ditubuh indahnya bercampur dengan air hujan serta aroma bear. Khafi dapat mendengar detakan jantung Dewi yang mengalun indah. Seakan jantung mereka berdegup beriringan mengarungi hujan yang semakin lebat.

Dewi pernah menangis, dia pernah hancur, dan mengutuk angin yang berhembus menertawakannya. Bahkan sampai sekarang Dewi tidak melupakan rasa sakitnya, dan terus memendamnya.

Tapi kini, sebuah kenyataan baru terpampang, bayangan wujud yang dia rindukan kini seperti hadir di hadapannya, tersenyum degan tatapan yang sama.

Makasih ya udah menemani hari-hari gue, bisik Dewi di telinga Khafi, bibir mereka mulai saling mendekat.

Khafi sedikit gugup, hawa dingin yang dihasilkan sang hujan tak cukup mampu menahan gelora panas yang tiba-tiba bergejolak diantara jarak bibir mereka yang hanya dalam hitungan mili. Khafi memfokuskan pandangannya menatap wajah Dewi yang semakin memerah diterpa air hujan.

Mereka terus bertatapan, tergores senyum simpul diantara wajah Dewi yang bersemu. Khafi selalu mengagumi Dewi layaknya bidadari hujan, hasrat membimbing jemarinya untuk naik dan membelai pipi indahnya.

Kali ini Dewi terlihat begitu bersinar, lebih terlihat indah dari yang selama ini Khafi lihat. Khafi merasa seperti di surga, karna dia sedang menatap seorang bidadari yang sedang membalas tatapannya. Matanya begitu meneduhkan, tatapannya begitu dalam menusuk relung hati. Khafi pasti disurga, disanalah mereka menatap bintang-bintang. Saling mendengar detak jantungnya yang menyanyikan irama perasaan yang syahdu, diantara hamparan hembusan angin sejuk.

Hasrat pula yang membimbing bibir kedua insan itu saling mendekat, semakin dekat hingga berjarak setipis kertas. Mereka dapat saling merasakan helaan nafas yang mengitari wajah mereka.

Cup, sampai pada akhirnya kedua bibir mereka bertemu, saling menyapa dalam diam diantara kecupan lembut.

Dewi lingkarkan tangannya merangkul Khafi, dia belai punggung Khafi yang nampak bidang, dan menuntunnya untuk merebahkan dirinya di atas hamparan rerumputan hijau basah nan becek.

Hasrat telah membimbing Khafi untuk mengikuti gerakan Dewi. Bibir mereka masih saling mengecup, terlihat gerakan-gerakan kecil dari bibir mereka memberi kecupan manis.

Taman yang tak terlalu luas membuat mereka untuk saling mendekap erat. Tangan Khafi mulai menelusuri rambut indah Dewi yang basah.

Dewi menjulurkan lidahnya menerobos bibir Khafi yang masih mengecup-ngecup manis bibirnya. Lidah Khafi menyambut lembut uluran lidah nakal Dewi,Hhhhmmmmmm, mereka terhanyut dalam dekapan sang nafsu yang kini menjajah hasratnya.

Jemari Dewi menelusuri tubuh Khafi lalu menerobos masuk ke dalam baju Khafi dan membelai lebut kulitnya. Rasa geli merasuki keseluruh tubuh Khafi ketika jemari lentik Dewi dengan nakal mulai menggelitik kulit Khafi.

Khafi mengikuti apa yang dilakukan Dewi, jemarinya menelusup masuk kaos Dewi yang basah sehingga mampu menampakan lekuk indah tubuh Dewi, Sssshhhhhhhh, dewi terpejam menikmati kelembutan jemari Khafi yang menggelitik tubuhnya.

Lidah mereka semakin intens beradu memberi ransangan. Bibir mereka mulai memagut dalam dekapan yang semakin erat memberi kehangatan. Tanpa disadari tangan Khafi sudah berada dalam sebuah bongkahan lembut nan kenyal yang ada di tubuh Dewi.

Desiran darah Khafi semakin kencang mengalir lebih kencang dari rintikan hujan, gejolak mudanya semakin kuat mengalir, penisnya menegang dengan sempurna. Kakinya ia angkat dan menindih kaki Dewi yang hanya terbalut leging tipis berwarna hitam.

Hhhhmmmm, Dewi merasakan tonjolan keras yang ada di selangkangan Khafi menyentuh pahanya. Ditambah jemari Khafi yang bermain halus di gundukan payudaranya. Membuat Dewi semakin hanyut dalam luapan hasrat mudanya.

Dewi mengangkat tubuhnya, dan Khafi pun merubah posisi tubuhnya hingga telentang, mereka masih saling kecup, saling lumat, saling pagut, saling belai. Dewi mulai menggesekkan pahanya di selangkangan Khafi, dan Khafi pun mengukuti dengan menggesekkan selangkangannya di paha Dewi.

Jedueeerrrrr, sebuah geledek menggema di langit, seolah mengiringi pergumulan Dewi dan Khafi.

Mereka berdua kaget dengan suara geledek yang baru saja bergema, mereka berdua tersenyum saling tatap.

Kembali mereka saling pagut, paha Dewi mencari tonjolan keras yang tadi ia rasakan. Setelah menemukan kembali ia gesek-gesekan, terdengar erangan pelan dari bibir mereka yang bersatu.

Decik liur mulai membasahi mulut mereka berdua yang semakin liar melumat. Jemari Khafi sudah tidak canggung menganggat koas Dewi hingga setengah badan, lalu membelai mesra punggung mulus dewi yang terhampar.

Jemari Dewi tak mau kalah, bahkan lebih liar dari jemari Khafi. Dewi membuka kaitan kancing celana Khafi lalu menurunkan res sletingnya. Tangan Dewi menerobos masuk ke dalam celana Khafi dan menggenggam lembut batang yang telah berdiri tegang.

Khafi sedikit terkejut dan terpejam begitu jemari Dewi membelai lembut penisnya itu. Dikocoknya secara perlahan sebuah batang yang baru pertama kali ia rasakan. Dimainkan dengan lembut penis milik Khafi.

Sssshhhhhh, sebuah kenikmatan menjalar, menyelimuti tubuh Khafi. Sensasi geli yang membuat seluruh bulu-bulu ditubuhnya berdiri. Naluri lelakinya berbicara, dia balikkan posisinya, dia rebahkan Dewi tepat di bawahnya.

Tangan Dewi semakin kencang mengocok penis Khafi tapi tetap dengan kelembutan, sangat hati-hati karna takut memberi sakit kepada Khafi.

Dewi tersenyum lalu menarik tangannya dari dalam celana Khafi. perlahan Dewi melepas kaosnya yang basah. Mata Khafi terbelalak tajam ketika tonjolan payudara Dewi kini terpampang bebas dihadapannya, ditambah dengan kondisi yang basah, membuatnya semakin berhasrat untuk memainkan birahinya.

Gejolak mudanya membimbing Khafi untuk mendekatkan bibirnya ke payudara Dewi. Dia jilati putting payudara Dewi yang telah mengeras dan berwarna merah kecoklatan. Hasrat lelakinya menuntun tangannya untuk merayap menuju payudara Dewi. Dia remasi bongkahan kenyal yang baru saja terbebas dari kaos yang mengetat karna basah itu.

Sssshhhhhhh, Dewi berdesis pelan, menikmati permainan terlarang yang mereka mainkan.

Tangan Dewi berusaha menurunkan celana Khafi, dan Khafi menggerak-gerakkan kakinya agar celananya dapat terlepas dari tubuhnya. Bibirnya masih aktif menjilati putting kenyal itu, digetar-getarkan lidahnya hingga Dewi menggelinjang merasakan kenikmatan yang membuatnya menatap sayu langit hitam yang menjatuhkan bulir-bulir air.

Setelah celana Khafi terlepas dan hanya menyisahkan celana dalamnya saja. Kini tangan Dewi menurunkan leging tipisnya, tak sulit baginya untuk melepaskannya dan juga menyisahkan celana dalamnya.

Khafi menempelkan selangkangannya di selangkangan Dewi, kemudian menggesek-gesekkannya kembali. Rasa geli yang nikmat kembali menjalari kelamin mereka, merambat hingga menjajah tubuh mereka.

Aaaaahhhhhh, desahan-desahan pelan mulai terdengar dari kedua bibir mereka.

Jemari Dewi semakin jauh menelusuri tubuh Khafi yang terpampang diatasnya, begitu pula jemari Khafi yang semakin liar membelai serta meremasi payudara dewi secara bergantian kanan dan kiri. Mulutnya pun semakin bernafsu menghisap sari-sari keindahan yang terpancar dari putting yang mencuat diatas payudara Dewi.

Dewi menurunnkan celana dalamnya, kemudian menurunkan celana dalam Khafi. diangkat kaos yang membungkus tubuh Khafi, membuat Khafi berhenti sejenak dari aktifitasnya dan mengangkat tubuhnya untuk meloloskan kaosnya.

Mereka saling pandang, tatapannya seolah berbicara untuk saling menyetujui akan membawa jauh kenikmatan yang sedang mereka alami. Naluri manusiawinya menuntun kedua insan itu untuk lebih jauh mengarungi nafsu yang kini bebas menyelimuti hasrat mereka berdua.

Dewi membelai lembut penis Khafi yang ditumbuhi bulu lebat, Khafi memajukan penisnya menuju vagina Dewi yang telah basah mereka dengan sedikit bulu berbentuk segitiga.

Aaaaakkkhhh, desis Dewi tertahan ketika Khafi mulai coba memasukan penisnya.

Terasa sempit sangat sempit memasuki vagina yang sudah lama tak terjamah oleh sebatang penis. Dewi semakin mendesah ketika Khafi menambah tekanan pada penisnya agar dapat memasuki vagina Dewi.

Sakit ?

Dewi tersenyum simpul enak tau.

Dewi menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata dalam-dalam menahan menikmati setiap gesekan penis Khafi.

Aaaaaaaaaakkkkkkhhhhh, jerit Dewi tak tertahan saat seluruh batang penis Khafi berhasil menyeruak masuk.

Dewi menarik kepala Khafi lalu melumat serta menggigit bibir Khafi untuk memuntahkan nafsu yang bergejolak. Khafi membiarkan penisnya tertancap di vagina Dewi yang berkedut-kedut kencang, memberi waktu untuk saling berkenalan satu sama lain.

Dewi terus melumat bibir Khafi, serta mencakar punggung Khafi sebagai pelampiasan nafsu yang semakin deras menerpa tubuhnya, lebih deras dari air hujan yang menhujami tubuh mereka. Khafi hanya terdiam membiarkan Dewi melukai punggungnya, seraya jemarinya membelai lembut rambut panjang Dewi yang kemerahan.

Semakin lama lumatan kasar Dewi semakin lembut, dan cakaran di punggung Khafi berubah menjadi belaian mesra. Dewi mulai mengatur tempo agar dapat lama dalam menikmati birahinya, dia mulai merasakan sensasi luar biasa ketika terselimuti birahi. Pinggulnya mulai bergoyang pelan, meliuk-liuk agar penis Khafi menjelajah seluruh area rongga vaginanya.

Khafi mulai menarik penisnya pelan-pelan, lalu menekannya kembali secara perlahan. SSssssshhhhhhhh, rintihan kenikmatan kini teringiang dari bibir lembut Dewi disela kecupan mesranya.

Dalap kecupan bibir mereka saling pandang, jemari mereka saling membelai pipi yang nampak berpeluh birahi. Gerakan-gerakan lembut pinggul mereka mempertegas keindahan hujan berbalut candu birahi yang melayangkan mereka menuju terpaan angin.

Dewi melepas pagutannya, kepalanya terdongak, naluri Khafi menuntunnya untuk menurunkan kecupannya menuju leher Dewi yang terpampang dihadapannya. Wangi aroma parfum tercium jelas dari leher Dewi walau derai hujan berusaha menghilangkan jejak parfum dari tubuh Dewi.

Oooooohhhhhh, mata Dewi terpejam, menikmati setiap sapuan lembut lidah Khafi di lehernya. Pinggulnya semakin kencang bergoyang, Khafi mengikuti dengan mempercepat ayunan penisnya menghujami vagina merekah Dewi.

Suara keciprat lendir sudah semakin jelas terdengar dari kedua kelamin yang saling beradu. Jemari Khafi menggenggam erat jemari Dewi, lalu merentangkan kedua tangan mereka.

Khafi menaikan kecupannya kembali menuju wajah Dewi. Dia kecup pipi lembut Dewi yang sejak tadi terus menerus merona. Kembali kedua bibir insan yang sedang terhanyut birahi itu bertemu, kembali saling lumat, saling memberi kelembutan dalam balutan desiran bibir yang bergetar.

Sebuah gelombang dahsyat sedang menjalari tubuh Khafi menuju titik ransang yang sedang menghujami vagina Dewi. Begitu pula dengan Dewi, sebuah getaran dahsyat membuat urat-uratnya menjadi kaku, seluruh tulangnya menjadi tegang.

OOOOuuuuuugggggggghhhhhh, lenguh mereka berdua diiringi siraman cairan kenikmatan yang menyembur sangat deras dan berkali-kali. Hingga membasahi kelamin mereka dan mengalir hingga menuju selangakangan Dewi.

Khafi terus menghujam penisnya yang masih menyemburkan cairan sperma, Dewi juga masih menggoyangkan pinggulnya seakan tak mau setitik kenikmatan pun terlewati.

Gejolak orgasme masih menyelimuti tubuh mereka, walaupun cairannya sudah berhenti menyembur. Gelombak dahsyat itu masih membekas nikmatnya, mereka saling memeluk, saling merangkul, saling membelai, saling menikmati sisa-sisa kenikmatan yang tak ingin buru-buru mereka sudahi.

Mereka saling tatap, memainkan isyarat-isyarat kekaguman pada diri mereka masing-masing. Dikelilingi hujan dan tetesan air mata, membalas rindu yang dihembuskan ke langit, akhirnya telah mereka temukan makna hidup, di balik kata selamat tinggal.

*****
Satu minggu kemudian

Keputusan untuk putus asa

Jadi ini keputusan kamu Fir, seorang wanita setengah baya membantu Safira mengemasi pakaiannya.

Mau gimana lagi mi, Safira terlihat pasrah dengan keadaannya saat ini.

Andai bekingan mami lebih kuat dari bekingan Robi, Lia menghela nafas beratnya, menatap iba wajah Safira.

Mungkin ini udah kehendak takdirmu, udah nasib Fira seperti ini, Fira melipat-lipat pakaiannya sebelum memasukannya kesebuah koper.

Andai aja mami tau kalau dua pria itu berniat buruk padamu, pasti udah mami tolak, tergurat wajah penyesalan dari seorang mucikari.

Gak buruk kok mi, kan Fira ngikutin kemauan mereka, Fira menggoreskan senyum yang terpaksa, mami dateng ya ke pernikahan Fira dua minggu lagi.

Apa kamu bahagia Fir ? Lia mulai meragukan senyum yang tergurat di bibir Safira.

Hehehe, bahkan nada tertawa Safira pun terdengar sangat datar, tuh Fira ketawa kan mi.

Semoga kamu benar-benar bahagia Fira, walaupun aku yakin kamu menangis dalam hatimu.

Safira berdiri, dengan langkah yang berat dia menuju sebuah kursi lalu mendudukinya. Di hadapannya tergeletak sebuah buku bertuliskan bunga harapan. Safira membukanya, kemudian mulai menggoreskan pena diatas lebaran kertas putih.

Mungkin ini terakhir kalinya aku menggoreskan tinta keinginan di atas bunga harapan. Jalan takdir kini semakin jauh dari harapan, aku hanya bisa diam memeluk takdir yang menusuki impian.

Bagai pisau belati yang merobek-robek tiap lembar harapan, takdir yang kini terus memaksaku untuk mengikutinya. Aku hanya bisa pasrah dalam limbungan asap-asap mimpi yang semakin lama semakin tipis dan memudar.

Dibalik hujan badai, tergores senyum hampa yang mengiringi tetesan air mata keputus asaan. Berjalan tertatih-tatih mengikuti arus takdir yang kian menyesakan. Hanya bisa menahan harapan yang semakin tergerus.

Walau begitu, seseorang pernah berkata, sesulit apapun dirimu berjalan, tetaplah berjalan dengan bibir yang melengkung indah. Walau lengkung itu hanyalah lengkung kerapuhan tapi tetap bisa menguatkan.

Safira menggambar sebuah lingkaran besar, lalu di dalamnya ia menggambar 2 buah lingkaran kecil sejajar, kemudian di bawah lingkaran kecil dia menggoreskan penanya melengkung, hingga membentuk sebuah gambar sebagai isyarat..

Tetaplah Tersenyum.

Bersambung

Author: 

Related Posts