Cerita Panas Berbagi Suami Bule Part- 27

Cerita Panas Berbagi Suami Bule Part- 27by adminon.Cerita Panas Berbagi Suami Bule Part- 27Berbagi Suami Bule Part- 27 The Floor Game By : Marucil Saat ini masih jam setengah Sembilan malam, yang artinya waktu masih begitu panjang untuk kita menikmati permainan. Badanku memang masih sedikit lelah karena kegiatanku kamarin. Tatapi sepertinya Malam ini akan menjadi suatu malam yang cukup special. Aku dan Mba Icha bergantianan mengeluarkan kata kata untuk […]

multixnxx-Black hair, Asian, High heels, Stockings, -12 multixnxx-Black hair, Asian, High-res, Solo-6 multixnxx-Black hair, Asian, High-res, Solo-8Berbagi Suami Bule Part- 27

The Floor Game
By : Marucil

Saat ini masih jam setengah Sembilan malam, yang artinya waktu masih begitu panjang untuk kita menikmati permainan. Badanku memang masih sedikit lelah karena kegiatanku kamarin. Tatapi sepertinya Malam ini akan menjadi suatu malam yang cukup special. Aku dan Mba Icha bergantianan mengeluarkan kata kata untuk membangkitkan gairah Tante Ocha. Dan juga kami tarus saling bercanda satu sama lain yang membuat kami larut dengan tawa dan keriuhan. Kami masih diatas tempat tidur dengan posisi seperti biasanya, tante ditengah Mba Icha disebelah kanan tante dan aku disebelah Kiri. Posisi ini memang posisi wajib ketika kami tidur bersama. Wajah kegembiraan terpampang ketika mba Icha mencium pipi Tante dengan begitu manjanya. Aku sesekali mencubit puting besar tante yang masih tertutup Baju gamis dan hijabnya. Tante hanya tertawa kegelian setiap kali aku melakukannya dan membalas dengan meremas penisku dari balik celana yang masih aku kenakan.

Kami memang belum memulai permaianan kami, belum juga menuju tahap foreplay pakaian kami saja masih lengkap kami kenakan. Tetapi suhu diatas tempat tidur itu semakin terasa panas, walau pendingin udara sudah diatur yang paling dingin. Tetapi gelora dari dalam diri kami masing masing telah membakar semangat yang membuat suasana menjadi semakin hangat. Untuk sekian kalinya Tante mengatakan ingin sekali segera melihat aku dan mba Icha berhubungan seks dihadapanya. Aku hanya mengiyakan saja dengan begitu lantangnya, namun mba icha masih saja tersipu malu. Pipinya merona seketika ketika mendengar permintaan tante. Mungkin ia masih merasa canggung?

Berhubung waktu masih cukup sore, kami memutuskan untuk berdansa dulu untuk melonggarkan otot otot agar agar tidak kaku ketika permaian kami dimulai. Aku menarik tangan tante yang seperti biasa selalu malu malu ketika diajak berdansa. Aku membawanya menuju bagian tengah kamarnya yang terbilang cukup luas. Mba Icha segera memutar musik dari home theater yang ada disalah satu sudut kamar ini. Lalu Mba Icha menyalakan lampu agar ruangan menjadi terang kembali. Sembari Mba Icha sibuk memilih cd musik romantis, aku langsung berdiri dibelakang tante dan memegang kedua tangannya. Kurentangkan satu tanganya kesamping dan lainya kudekapkan diperutnya.

Saat ini Tante Ocha memang mengenakan setelah Gamis model Sifon yang agak sedikit lebar sehingga lekuk tubuhnya tersembunyi sempurna dibaliknya. Namun hal itu justru membuat rasa penasaranku semakin mencuat, memang setiap kali tante keluar rumah dengan mengenakan baju model ini tubuhnya tampak begitu sexy begitu juga malam ini. Mba Icha telah memilih sebuah CD kumpulan lagu romantic, ia memasukan cd tersebut kedalam player kemudian memainkanya. Musik sudah berlantun, seketika itu pula aku mulai menggerakan tubuhku seirama dengan hentakan musik yang begitu menenangkan itu.

Ikii ngopo pake Dansa dansa segala toh Ndoo? Jen ono ono wae koe podo Sahut tante sembari mengikuti gerakan tubuhku.
yah sekali kali tante, lagian kan besok Tian udah ke Jakarta, kita bakal gak ketemu sebulan. Yah itung itu perpisahan sebelum Tian liburan. Jawabku
Yah kan Mba tanyaku pada mba Icha.
Iya, Tante ini, diajak romantis sedikit kok gak mau Sambung mba Icha yang tengah menghampiri kami

Mba Ichapun bergabung bersama kami, ia menggenggam lengan Tante yang lain dan merentangkan kesamping. Kini tubuh tante terhimpit oleh kami berdua. Memang jarang sekali orang berdansa dalam posisi seperti ini. tetapi buat kami ini hal yang sangat biasa. Kami memang kerap melakukan dansa seperti ini. Merapatkan tubuh satu sama lain dan bergoyang mengikuti irama. Sembari berputar putar diatas lantai beralas karpet tebal, aku sesekali menempelkan dan sedikit menggesekan penisku yang sudah sangat tegang diselah selah pantat Tante Ocha. Aku melakukannya hingga tubuhku kini menempel dipunggungnya. Pada posisi seperti ini kami terlihat seperti sebuah tangga, dengan aku sebagai anak tangga paling bawah dan Mba Icha anak tangga paling atas.

Melihatku merapatkan tubuhku pada punggung Tante Ocha, Mba Icha juga tidak mau tinggal diam. Iapun ikut merapatkan tubuhnya kedada tante dan menaruh kepalanya du pundak tante. Mba Icha menatapku sembari tersenyum. Lalu tiba tiba aku mencoba mengecup keningnya. Cuuup. Ia tidak bergeming hanya tersenyum dan sedikit menahan tawa. Lalu tak lama ia kembali menjauhkan tubuhnya dari dada tante Ocha lalu ia pegang pinggul Tante Ocha dengan kedua tanganya.

Hmmm. Mala mini tante yang mau dimanjaiinnn, ataaauuu, tante yang ngemanjain kita berdua. ? Tanya Mba Icha dengan sangat manja
Pokoknya malam ini tante milik kalian berdua. Jadi semuanya kebagian . pokoknya kita harus saling ngemanjaain yaaahh jawab tante tak kalah genit.
Ichaa suka deh kalau Tante lagi genit kaya gini Muuuachhhhhhhhhh Kecup Icha dibibir tante sembari memegang rahang tante dengan kedua tanganya.

Musik berganti pada lagu selanjutnya, aku beranjak dari posisiku dan berdiri membentuk lingkaran diatara tante dan Mba Icha. Kami saling merangkul pinggul satu sama lain dan terus berdendang. Aku mendongakan kepalaku untuk memperhatikan mba Icha berbicara. Ia terus berbicara menayakan hal hal yang genit untuk memancing libido Tante Ocha. Namun begitu kaget ketika ia menanyakan hal serupa padaku.

Kalau Elu bas, mau diupuasin siapa Gue apa Sama Tante? Tanya mba icha yang sontak membuyarkan perhatianku
Ahhhhh, kalau akuu sihhh, mana saja jadi, hmmmm bahkan Tiaan yang bakal muasin kalian berdua jawabku sedikit memuji diri.
Halaah kaya kuat aja kamu lawan kita berdua Sahutt Mba Icha.
Yee, kemarin aja lawan 5 cewe Tian kuat kuat ajaa.. Jawabku.

Limaa, kata kamu Cuma 2 yang ngentot sama kamu, Jeng Elin sama siapau tuh, Zaskia Tanya Tante Ocha sedikit terkejut.
Yah Lima, kan yang satu sama Zaskia, terus sisanya Tante elin. Kan Tante Elin diitungnya 4. Hehehe jawabku sambil sedikit bercanda
Hahahahahaha Tawa Mba Icha
Huuuusss, gak boleh gitu kamu ahh. Gitu gitu Jeng Elin temen baik Tante looh
Iyaa tantee sayang, kan Tian Cuma bencanda doing heheh Jawabku menjelaskan.

Udah pokoknya bukan siapa ngemanjain siapa, bukan siapa yang muasin siapa. Kita semua seneng seneng bareng . jadi harus puas sama sama. Jadi mala mini gak boleh sampe ada yang gak puas. Semuanya harus menikmati kepuasaaaan yang sama. SETUJUU Ujar Tante membangkitkan semangat kami. Kamipun bersorak sambil menganggukan kepala. Kamipun berlanjut untuk berdansa, tangan kami semakin erat merangkul satu sama lain.

Kami mengentikan dansa kami sejenak. Lalu tante merangkul kami agar tubuh aku dan mba Icha semakin dekat denganya. Aku dan Mba Ichapun kompak mencium pipinya. Cukup lama kami mencium pipit ante yang sebagian masih tertutup oleh Hijabnya. Tante tersenyum riang meilhat kekompakan kami berdua.

Kalian iki bener bener kayak kakak beradik. Kompakan nyium pipi tante Kata tante setelah pipinya kami cium. Kulihat pipinya mulai merona.
Kalian kemarin ciuman juga gak Tanya tante lagi kepada kami.
belum, kan kemarin kita Cuma ngwee yah bas, gak ngapa ngapain lagi jawab Mba Icha sigap
heeeh sambungku mengiyakan.

Berarti boleh dong kalau tante lihat kalian Ciuman?Pinta Tante.
Ciuman Nih tan? Jawab Mba Icha sedikit ragu, ia menaikan satu alisnya.
Iyaa lah, Kan nanti kamu bakalan kentu sama bastian, yah berarti harus ciuman juga dong. Kan kalau kentu gak pake ciuman itu kurang pas Jelas tante
Tapi tan.. Sanggah Mba Icha

Belum sempat Mba Icha melanjutkan kata katanya, Tante memegang leher kami berdua dan mendorongnya hingga bibir kami saling menempel. Mba Icha terlihat sedikit kaget akan perlakuan tante yang tiba tiba, namun lama kelamaan ia mulai menggerakan bibirnya walau masih sedikit kaku. Secara spontan aku juga ikut menggerakan bibirku dan mulai memagut bibir mba Icha yang begitu mungil. Namun dapat kurasakan Mba Icha belum terbiasa dengan Ciuman ini. Bibirnya memang memagut bibirku tetapi seolah belum bisa menerima bibir lelaki menempel dibibirnya. Hanya sebentar tante menahan kepala kami. Lalu Mba Icha melepas bibirnya dari bibirku. Ia sedikit mengeluarkan ekspresi cemberut.

Tante ini gimana sih kan Icha belum kebiasa ciuman sama cowo lagi Protes Mba Icha disusul dengan cubitan rigan dipipi tante Ocha.
Hmmm pantesan ciuman Mba Icha gak enak sambungku.
Udah nanti juga terbiasa dengan sendirinya kok Jawab tante dengan tersenyum lebar.
Kalau Nyuim bibir Tante sih Icha udah sangat terbiasaa Kata kata itu diimbuhi dengan ciuman bibir Icha kepada tante Ocha. Mba Icha memegang leher tante dan sedikit meremas hijabnya. Bibirnya segera beradu satu sama lain. Aku sedikit menjauhkan tubuhku untuk memberikan ruang kepada Mba Icha yang mulai terbakar api asmaranya. Tanpa sadar aku mulai mengelus penisku yang sudah keras sedari tadi. Kulihat terus setiap detik Mba Icha memainkan lidahnya. Tante juga balik memainkan lidahnya dan menyapu dan beradu dengan lidah mba Icha. Aku semakin terbawa suasana dari permulaan yang dilakukan oleh Mba Icha. Aku segera berdiri dibelakang tubuh Tante dan mulai menyentuh tubuhnya dari belakang.

Sluuurrpppp
Slruuupppp

Bunyi keceplak dari peraduan dua wanita itu memnimbulkan bunyi yang begitu bergetar ditelinga. Terpadu dengan lantunan musik romantis menjadikan suasana menjadi begitu Indah. Kuraba seluruh bagian punggung tante. Kuraba setiap inchinya dan tak ada sudutpun yang aku lewatkan. Aku semakin menurunkan tanganku dan kini aku meremas belahan pantat tante , kuremas keduanya bergantian kiri dan kanan. Kucoba menekan jariku pada vaginanya, Ahhhhhhhcccc Tante sedikit menggelinjang ketika aku melakukan hal tersebut hingga melepas ciumannya dengan Mba Icha. Ketika Ciuman mereka berdua terlepas Mba Icha bukan berusaha meneruskanya, tetapi ia menurunkan bibirnya, ia menelusuri leher tante yang masih tertutup jilbab tersebut. Ia mengendus dan berusaha menggigit leher tante dari luar Jilbab.

Melihat Mba Icha sudah tidak mencium Tante lagi, aku mengambil kesempatan ini. Kudekatkan wajahku kesaming kiri wajah tante Ocha. Melihat itu tante segera meraih kepalaku ia mendekatkan wajahku dan segera melumat bibir ku dengan begitu ganasnya. Ia memasukan lidahnya kedalam rongga mulutku dan segera meliuk liukan lidahnya seolah menari mengikuti irama musik. Aku menarik tubuh tante dan menyenderkannya pada dadaku. Sedikit kurendahkan posisi berdiri tante hingga dalam posisi ini aku dapat dengan leluasa untuk mencium tante. Kini Posisi wajah tante sudah lebih rendah dariku karena ia menyandarkan punggungnya pada dadaku. Lalu aku kembali mencium bibirnya dan kini lidahku yang kumasukan kedalam rongga mulutnya. Kusapu semua permuakan didalam sana. Tante menghisap Lidahku cukup kuat hingga lidahku semakin masuk kedalam rongga mulutnya.

Mba Icha kini tengah asik dengan Payudara tante, ia membenamkan wajahnya pada payudara yang masih tertutup itu. Lalu jemari lentiknya segera mengambil peran. Ia meremas kedua payudara tante dengan begitu lembut. Sangat lembut hingga Tante perlahan mulai merintih. ACHHHHHHH

Mba Icha terus meremas Payudara tante tetapi wajahnya kini semakin turun kebawah. Bibirnya menghembuskan nafas hangat diperut tante lalu hembusannya berakhir dihadaapan selangkangan tante yang masih terlindung oleh gamis panjang. Mba Icha kini memasukan Tanganya kedalam rok panjang itu. Ia meraba Vagina tante dan sedikit memasukan jari kedalamnya. Rupanya vagina tante sudah sangat basah oleh permainan pembuka ini. Mba Icha menarik kembali tanganya. Lalu ia meminta tante untuk melebarkan kaki Tante Ocha. Kemudian Mba Icha menarik sedikit rok tante dan ia memasukan kepalanya kedalam rok tersebut. Perlahan lahan Mba Icha mulai memainkan lidahnya di gundugan daging milik tante. Tubuh tante mulai menggelinjang oleh tindakan yang dilakukan Mba Icha hingga tubuhnya semakin terperosok kebawah.

Ahhhhhhh, Ahhhhhh Teruuuss Chaaaaa
Achhhhhhh

Sementara Mba Icha asik menjiati Vagina tante Ocha, kini aku dapat leluasa meremas Payudara tante Ocha. Kuremas keduanya secara bergantian . Kuremas dan sesekali kutarik puting tante yang sudah sangat mengeras. Tante Ocha semakin lincah memainkan lidahnya seolah ingin terus bersentuhan dengan lidahku. Kini tanganya berusaha meraih penisku, ia memasukan tanganya kedalam sela celanaku dan mulai meremasnya dari dalam. Sungguh enak sekali sudah cukup lama aku tidak merasakan elusan dari tangan lembut tante Ocha. Tante terus mengelus dan terkadang meremasnya membuat seluruh batang kemaluanku menjadi sangat ngilu.

Hmmmmm
Ohhhhh, Enaaak Bangeet sayaaang terusss digituuuin Ahhhccchhhhhhh

Tante tiba tiba saja menyerocos ketika dabawah sana dua jari Mba Icha mulai masuk kedalam dinding Vagina tante Ocha. Mba Icha mulai mengocokan tanganya sembari lidahnya terus meliuk diatas klitoris tante yang kian mengeras. Mba Icha semakin kencang mengocok jarinya hingga tak diduga tante Ocha mendapat Orgasme yang pertama dalam permainan pembuka ini. Tubuh Tante menggelinjaang dan semakin terperosok kebawah. Mba Icha keluar dari dalam Rok Tante dengan wajah yang belepotan cairan kenikmatan dari tante Ocha. Ia melihat kami berdua dengan senyum begitu puas. Ia menyeka sendiri cairan lengket dibibirnya. Lalu ia melepas sendiri celana dalam hitam yang ia kenakan . Mba Icha duduk diatas Karet bulu tebal dan merebahkan tubuhnya Indahnya diatas karpet tersebut Lalu ia buka kedua pahanya hingga Vaginanya yang ditumbuhi dengan bulu jembut yang begitu lebat. Hampir sama lebatnya dengan bulu di Vagina tante Ocha. Mba Icha tersenyum kearah kami dan ia memegang bibir Vaginanya dan sedikit melebarkanya hingga bagian dalam vagina Mba Icha yang berwarna pink kecoklatan dapat kami lihat dengan jelas.

Sekarang Gantiaan yah Tan, Kata Mba Icha berharap.

Mendengar permintaan dari mulut Mba Icha, Tante segera turun ke bawah lantai dan mengambil posisi doggy. Dan tanpa membuang waktu ia segera mendekatkan wajahnya kedepan vagina Mba Icha yang terlihat mulai mengkilap. Tante nunggung dengan membusungkan pantat nya kebelakang. Terlihat begitu bulatt nan Indah bagiku. Aku menekuk lutut disamping tubuh Tante Ocha sembari tanganku mengelus pantat tante dari Balik Gamisnya. Kuelus sambil kusaksikan permaian lidah Tante di dalam liang kenikmatan Mba Icha. Tante semakin dalam memasukan lidahnya kedalam vagina mba icha dan semakin mengisap gelambil yang ada pada sisi vaginta mba Icha. Kulihat Mba Icha mulai menikmati permaian Tante. mulutnya mulai terbuka dan sesekali mengigit bibirnya sendiri. Ia meremas sendiri payudaraya ketika Tante semakin kuat mengisap seluruh bagian Vagina itu.

Melihat Posisi Tante yang seperti itu, aku menjadi tertarik untuk sedikit bermain. Aku berdiri dan melangkan menuju meja disamping tempat tidur. Kuambil beberapa dilldo dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Lalu aku kembali dan menaruh dildo tersebut diatas Karpet bulu beludru berwarna Cream. Aku menjejerkannya agar aku mudah untuk membedakan fungsinya. Kubuka Rok Gamis Tante dan kusingsingkan keatas pinggunya. Kuremas kedua belahan Pantat tante dan kusibak bulu bulu yang tubmuh disekitar anus tante. Lalu kujilati Anus tante agar sedikit basah. Kuambil sebuah dildo berukuran kecil dan kutempelkan ujunya didepan bibi anus Tante yang sudahh mulai sedikit merekah. Kuludahi anus tante agar semakin basah dan licin. Dengan perlahan kumasukan dildo tersebut kedalam anusnya.

Achhhhhhhh
achhhhhh Kamu nakaaal sayaaang Tante menghentikan permaianan lidahnya sejenak begitu mengetahui aku mulai mempermainkan lubang Anusnya.

Udah Tante fokus jilatin memeknya Mba Icha aja deh, Tuh Mba Icha udah keenakan. Kataku
Iya My Aunty, jilatin memek icha aja, Icha udah gak tahaan nihh, Potong Mba Icha sambil berusaha menarik kepala tante agar kembali mengoral vaginanya.

Kubiarkan dildo itu agar setengah tertancap didalam Anus Tante dan aku kembali menuju meja disamping tempat tidur lalu kucari sebuah Vibrator. Cukup lama aku mencarinya karena rupanya Tante menaruhnya didalam laci bupet. Setelah kutemukan kuambil beberapa jenis Vibrator, yang paling banyak aku bawa adalah vibrator dengan bentuk kapsul yang tersambung dengan kabel pada pusat powernya. Kuambil 4 buah dengan model tersebut sedang yang lainya adalah vibrator besar. Aku bergegas kembali dan segera duduk disamping tubuh tante. Kulebarkan paha Tante dan kujembrengkan bibir Vagina tante. Sebentar kupelintir jembut tante yang sangat panjang itu, saking panjangnya aku harus menyibaknya terlebih dahulu sebelum aku bisa melihat bagian bibir vaginanya. Puas memelintir bulu jembut tante, kumasukan sebuah Vibrator berbentuk Kapsul kedalam liang vaginanya. Kudorong dengan jariku agar vobrator itu semakin masuk kedalam. Kini hanya kabelnya saja yang terlihat dari luar. Kunyalakan tombol power dan Wezzzzzzzzzzzz Wezzzzzzzz. Terdengar bunyi getaran dan seketika itu pula tubuh tante bagian bawah segera menggelinjang. Titik syaraf didalam dinding vagina tante menerima rangsangan dari getaran yang dihasilkan oleh vibrator itu dan membuat tubuh Tante menjadi ikut bergetar. Kuputar kecepatan getaran menjadi level yang paling tinggi

ACHHHHHHHHHHHH HHMMMMMMAAACHHHHHH

Sejenak tante berteriak dan mendesah sangat kencang, namun segera kembali dengan aktifitasnya mengoral vagina Mba Icha. Kubiarkan Vibrator itu bekerja lalu kutinggalkan saja kedua mainan didalam kedua lubang tante dan segera kupungut Mainan lainya dan berpindah kesisi Mba Icha yang tengah menggelinjang menerima permainan tante Ocha. Tubuhnya begitu kuat bergetar dan bergoyang sehingga kepala tante harus ikut bergoyang mengikuti gerakan pinggul Mba Icha. Aku berbaring disamping tubuh Mba Icha. Kusibak rambut peraknya hingga dahinya yang sedikit nonong itu terlihat. Ia membuka mata sejenak dan tersenyum nafsu kepadaku. Aku mengambil Dua buah vibrator Kapsul dan kini aku ingin memasangnya ditubuh Mba Icha. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu kumasukan dua buah kapsul kedalam bra mba Icha, dan kuletakan tepat diatas dua putingnya yang begitu mungil. Kutinggalkan Vibrator itu dan kubiarkan mainan itu merangsang dada Mba Icha. Ketika aku mengatur level kecepatan yang paling tinggi Mba Icha langsung membuka lebar mulutnya dan menutup matanya rapat rapat. Ia menganga dan tak bersuara seolah mainan ini telah membawa Mba Icha pada puncak kenikmatan yang paling Tinggi.

“AACChhhhhhhh”
“AACCUUUCCCCCCHHHHHHHHHHH”
“HMMMMMMMMGGGG”
Mba Icha muai mendesah dengan racauanya sembari mulutnya terus menganga dan terkadang menggigit bibirnya sendiri

Kapsul ajaib ini tinggal satu dan aku berfikir hendak aku taruh dimana lagi. Tidak mungkin aku menggunakannya sendiri. Lalu ketika aku melihat ada sebuah celah diantara wajah Tante Ocha dan vagina Mba Icha aku memiliki sebuah Ide Cemerlang. Segera aku mengambil dua buah Bantal. Aku meminta Mba Icha untuk mengangkat sedikit pinggulnya lalu kutaruh dua buah bantal tersebut dibawah Pantat Mba Icha yang membuat posisi pinggulnya semakin tinggi. Kulebarkan kedua kaki Mba Icha hingga tante Ocha semakin mudah untuk melanjutkan jilatanya. Kini posisi mereka berdua sudah semakin menggila. Keduanya sudah berada dipuncak tertinggi nafsu masing masing. Aku tidak tahu kenapa mala mini aku begitu sangat agresif. Entah sadar atau tidak aku begitu puas melakukan hal itu terhadap dua wanita dihadapanku ini. Aku perhatikan mereka berdua sembari tanganku meremas sendiri penisku dari balik celana Pendeku. Ingin sekali aku menyodorkan penisku. Tetapi dengan kondisi tubuhku saat ini aku sadar aku tidak akan kuat untuk menuju permainan utama bila aku tergesa gesa. Karena ini masih tahap pembuka permaianan kami malam ini aku coba untuk sebisa mungkin mengontrol nafsuku sendiri. Aku ingin terlihat kuat didepan Tante dan Mba Icha. Aku tidak akan kalah akan aku buktikan bahwa aku adalah lelaki yang kuat. Kupengang Kapsul Ajaib keempat ditangan kiriku, lalu kusetel pada kecepatan yang paling tinggi. Kemudian aku berbaring disamping tubuh Mba Icha, ku belai lagi rambutnya. Ia lantas membuka mata dan menatapku dengan wajah yang penuh dengan nafsu. Aku semakin bergairah melihat ekspresi mba Icha yang seperti itu. Lalu Kapsul Ajaib yang sudah bergetar itu kutempelkan pada perut Mba Icha, lalu perlahan kugeser kapsul itu menuju area sensitifnya. Kusibak Bulu bulu disekitar selangkanganya dan berakhir di Klitoris Mba Icha. Kutekan Vibrator itu tepat diatas Klitoris yang sudah sangat mengeras. Mba Icha mengerang begitu kencang dan tubuhnya semakin bergerak naik tak beraturan.

“ACHHHHHH”
“Anjiiiinggggg”
“Loo Jahaaaatttt Bangeet baas ama gueee….. AHHCHHHHHHH”
“HMMMMMMMMM”
“OUCHHHHHHHHHHH”

Keluar umpatan dari mulut mba Icha, ia memakiku karena telah memberikan sebuah kenikmatan lebih pada dirinya. Begitu melihat aku asik dengan klitoris Mba Icha, dengan sendirinya Tante berpindah tempat kini Anus Mba Icha lah yang menjadi objek birahinya. Ia menjilati Lubang matahari Mba Icha dan mulai menusukan lidahnya kedalam. Mba Icha semakin menggelinjang, kini ia mencoba merangkulku, ia menarik leherku hingga wajahku berhadapan dengan wajahnya. Ia menatapku begitu dalam. Mata serigala yang selama ini menjadi salah satu daya tarik dari dirinya. Tatapan mata Mba Icha seolah menjadi magnet bagiku, hingga aku mulai memberanikan diri untuk mengecup bibirnya yang terus menganga. Mba Icha hanya diam tanpa melakukan perlawanan. tetapi sejurus kemudian ia mulai terpancing oleh getaran lidahku. kini ia mulai terbiasa berciuman dengan lawan jenis dan tanpa canggung ia mulai memainan lidahnya. Kami saling beradu lidah dan saling berusaha menghisap bibir satu sama lain.

“SELLLLLLEEEEEPPPPPPP”
“KLEEEEEEELLLLLL”

suara yang ditimbulkan oleh ciuman kami beradu dengan bunyi jilatan tante pada Anus Mba Icha. Sehingga menimbulkan suatu harmonisasi suara yang begitu indah. Belum lagi lantunan musik romantis yang masih berputar membuat kami terlena dan seolah terbang keatas nirwana. Mata Tante Ocha mulai melirik penisku yang berada tak jauh disamping wajahnya. Ia mendekatkan tangannya dan hendak meremas penisku. Tetapi aku menyadarinya dan kucoba menghentikan niatannya. Kupegang erat lengan Tante Ocha hingga ia tak bisa lagi meraih penisku yang memang sudah sangat tegang seperti suasana didalam kamar ini. beberapa saat kemudian keduanya mengerang hampir bersamaan. Kulepas bibirku dari bibir Mba Icha lalu kumasukan Kapsul Ajaib kedalam Vagina. Dari erangan barusan aku tahu salah satu diantara mereka telah mendapat Orgasme, tetapi aku sengaja tiidak menyudahi permainan pembuka ini. Bahkan kini aku meminta Tante menudahi permainan lidahnya, Kutarik tubuhnya dari sellangkangan Mba Icha. Lalu perlahan aku menuntun Tante agar berbaring sebelahan dengan Mba Icha yang terengah engah oleh getaran Vibrator didalam Liang kenikmatanya. beberapa kali ia mencoba menarik kabel untuk mengeluarkan Kapsul ajaib itu, namun usahanya selalu kugagalkan. Aku menarik satu Bantal di bawah pantat Mba Icha untuk kemudian aku taruh di bawah Pantat Tante Ocha hingga pinggul mereka kini sudah sama tinggi.

Kulihat nafas mereka berdua mulai terengah. Ku beri kelonggaran agar mereka dapat mengatur nafas kembali. Tetapi tak lama kemudian aku kembali bereksperimen. Aku ingin mempraktekan cara membuat wanita mendapat “Female Ejaculation” yang telah diajarkan oleh Tante Elin Kemarin. tante Elin memang hanya sebentar mengajariku teknik yang benar, tetapi aku sudah cukup paham walau aku ragu bisa melakukannya. Aku hanya berharap teknik ini dapat berhasil hingga salah satu diantara tante Ocha atau Mba Icha dapat merasakan Ejakulasi..

Kumasukan jari tengah dan Manisku kedalam Vagina mereka berdua, lalu kutekan ujung jariku dibagian atas dinding vagina untuk mencari titik G-Spot mereka. Kucari titik dengan kedutan paling kencang, berarti itu adalah titik G-Spotnya. Setelah menemukan titik tersebut kutekan juga Klitoris mereka dengan jari Jempolku. Lalu perlahan mulai kugerakan pergelangan tanganku, aku tidak mengocoknya keluar masuk namun hanya menggerak gerakannya saja. Tante Ocha dan Mba Icha hanya pasrah atas semua yang kulakukan. mereka sudah tidak lagi berdaya, tubuh mereka berdua terlihat begitu lemas sehingga tidak mampu untuk melakukan perlawanan terhadapku. Mereka hanya sesekali menatap dan saling membelai satu sama lain. Sementara Tanganku terus bergerak hingga menimbulkan suara dari cairan vagina yang sudah sangat membanjiri permukaannya. Mata mereka terpejam, mulut mereka menganga menikmati sebuah permainan baru dariku. Perlakuan ku ini bisa saja disebut sebagai Double Penetrasi karena didalam Vagina mereka masih terdapat Vobrator Kapsul yang sengaja masih aku tinggalkan.

“AHHHHHHhHHHHHHHH”
“ANJIIIIIING, Lu APAAAAAaiiin Memeeeek guaa bass, Ahhhhhhh”

“Achhhhhhhhh”

Mba icha mulai mengumpat dengan kata kata yang sedikit kasar. begitupula dengan tante Ocha iya juga mendesah dan mengeluarkan beragam umpatan untuk mengungkapkan rasa nikmat yang tengah ia alami.

“Tiiiaaaan saaaayyaaaaanggggg, kamuuuu…….”
“AHHHHCHHHHHHH”

“ACHHHHHH. CHHHHHHHHh”
MhhHHHHHHHHH

Kubiarkan saja mulut mereka terus nyrocos karena aku masih penasaran apakah teknik yang sedang aku praktekan ini berhasil atau tidak. Aku sempat putus asa karena sudah cukup lama aku melakukan ini tetapi tidak mendapatkan hasil apa apa. Belum lagi pergelangan tanganku lelah karena sedari tadi terus kugerakan. Karena merasa teknik ini belum berhasil aku mencoba menyudahi permainanku, Kulepas jariku dari Vagini Mba Icha, namun ketika aku hendak melepas tanganku dari Vagina tante, kurasakan bagian dalam Vagina tante semakin berkedur dan pinggul tante mulai bergetar. Lalu sesaat kemudian keluarlah sebuah semburan kecil dari dalam Vaginanya. Walau hanya semburn kecil tetapi aku yakin itu adalah sebuah Female Ejakulation. Tubuh Tante menggelinjang begitu hebatnya. mungkin ini pertama kali ia merasakan hal seperti ini.

“CHHHHHHHAAAHAHHHHHHHHHH”
BAssssstiaaaaaaannn, Memeeek tante wenaak banget sayaaang Ahchhhhhhhh”

Kucabut jariku dan segera kusibak permukaan Vagina tante dan kurasakan cairan masih menyembur dari dalam. Tante menyembur sebanyak 3 kali walau hanya sedikit. Kucabut vibrator dari dalam Vagina kedua wanita ini. Kucabut pula Dildo kecil yang masih terus menancap dianus tante sedari tadi. Kuluruskan Kedua kaki mereka agar mereka bisa mengatur nafas lagi. Aku sedikit berbaring disamping tante Ocha dan kukecup keningnya. Ia hanya menatapku nafanya yang tersenggal membuat wajahnya begitu sangat membuat nafsu. Aku kembali berdiri dan kuambilkan minum untuk keduanya. Kuangkat tubuh mereka hingga terduduk dan kuberikan segelas air putih agar membuat mereka lebih rileks.

“Tadi kamu apaan Tante sih tiaaan, kok bisa sampe kaya gitu. tante baru pertama kali nih ngerasain kaya gini.” Achhhhh
Kata Tante sembari menghabiskan minumnya.
“Iya luh bass Memek gue ampe lemes banget” Sambung Mba Icha.

“Heehehehe. Tapi enaaak kaan?” Jawabku

Keduanya mengangguk kompak dan kemudian memberikanku gelas kosong. Mereka minum seolah habis berlari maraton. Aku hanya tersenyum bangga bisa membuat mereka menjadi seperti itu.

Author: 

Related Posts