Cerita Sex Tusuk Konde – Part 10

Cerita Sex Tusuk Konde – Part 10by adminon.Cerita Sex Tusuk Konde – Part 10Tusuk Konde – Part 10 Kado Spesial untuk Bimo Mobil Jeep berwarna gelap melaju dengan kecepatan lambat, menelusuri jalan Raya Bogor menuju kearah Jakarta, yg malam itu cukup lengang. Ditepi-tepi jalan tampak beberapa PSK menjajakan tubuhnya kepada pengendara mobil ataupun sepeda motor yg kebetulan melintas, selang beberapa meter sekumpulan PSK waria melambai-lambaikan tangannya kearah mobil […]

multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-10 multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-11 (1) multixnxx- Hikaru Kirameki Hikaru Kirameki enjoys s-11Tusuk Konde – Part 10

Kado Spesial untuk Bimo
Mobil Jeep berwarna gelap melaju dengan kecepatan lambat, menelusuri jalan Raya Bogor menuju kearah Jakarta, yg malam itu cukup lengang. Ditepi-tepi jalan tampak beberapa PSK menjajakan tubuhnya kepada pengendara mobil ataupun sepeda motor yg kebetulan melintas, selang beberapa meter sekumpulan PSK waria melambai-lambaikan tangannya kearah mobil jeep dengan kaca gelap itu, sipengendara jeep hanya tersenyum dibalik kaca gelapnya yg tentu tak diketahui oleh para PSK itu bila yg berada didalam mobil itu adalah seorang wanita.Dia adalah Astrid, atau tepatnya raga Astrid yg jiwanya telah dikendalikan sepenuhnya oleh Romlah, roh dari masa lalu yg bersemayam didalam jiwa gadis remaja itu.

” Dasar sundel, kagak dulu kagak sekarang, ada aja dimana-mana ” gumamnya pelan, pada dirinya sendiri.

” Ah, kapan gua kendiri juga sundel hi..hi..hi..” gumamnya lagi, diikuti dengan tertawanya yg renyah.

Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah, sepertinya ada jiwa lain yg saat itu mulai terjaga, jiwa yg sesungguhnya adalah pemilik sah dari raga itu, itulah jiwa Astrid yg sebenarnya, yg pada beberapa jam sebelumnya gadis itu berada dalam ketidak sadaran akibat pengaruh obat bius yg diberikan Rudi.

” Dimana aku..? Mana Bimo?” erang Astrid, seraya menepikan mobil yg dikendarainya ditepi jalan yg sunyi dikawasan Cilodong.

” Rupanya kau sudah sadar, gadis bodoh… Tidak ada Bimo disini, mungkin sekarang dia sedang molor dirumahnya…. kamu baru saja diculik, bodoh…” bisik roh Romlah, kepada Astrid yg kini kembali memegang kendali atas raga yg dimilikinya.

” Diculik?” Astrid mulai mengingat-ingat kejadian mulai dari saat dirinya ditelpon oleh seseorang yg memberitahukan bahwa Bimo over dosis, sampai dirinya berada diruangan yg asing baginya, termasuk diingatnya pula tiga orang pemuda dan seorang wanita diruangan itu.

“Siapa yg menculikku?”

” Siapa lagi kalau bukan 3 ekor cecunguk itu, yg sepertinya atas suruhan perempuan jalang itu” bisik suara itu lagi.

Astrid berpikir, otaknya mulai bekerja merangkai serentetan kejadian yg dialaminya, yg akhirnya dapat menyimpulkan apa yg sesungguhnya telah terjadi padanya.

” Jadi, Vera telah memerintahkan ketiga orang itu untuk menculikku? Lalu dimana mereka sekarang?”

” Ketiga cecunguk itu telah kukirim ke neraka, tapi sayangnya perempuan jalang itu berhasil meloloskan diri..” terang bisikan roh itu.

” Maksudmu, kau telah membunuhnya? Kejut Astrid atas penjelasan Romlah.

” Ya, tapi kau tak perlu kawatir, mayat mereka telah kubakar, sekaligus bersama dengan bangunan mewah itu, sehingga melumatkan semua bukti-bukti bahwa pernah terjadi pembunuhan ditempat itu..kecuali kalau perempuan jalang itu membuka mulut , tapi batinku mengatakan kalau dia tidak akan berani membuka mulut, karna itu justru akan membongkar aibnya sendiri ” terang Romlah.

Astrid mulai mengamati sekitar interior mobil yg dikendarainya itu, dan mulai menyadari bahwa itu adalah kendaraan milik dari salah seorang yg menculiknya itu.

Kalau begitu, aku tidak bisa mengendarai mobil ini sampai Jakarta, itu akan beresiko.. ujar Astrid sambil meraih tasnya yg rupanya masih tergeletak di jok belakang mobil itu, dibuka ponselnya, lalu dihubunginya Bimo.

Beberapa saat kemudian terdengar jawaban dari suara Bimo, dari nada suaranya yg terdengar parau dan berat, menandakan dirinya baru saja terbangun dari tidur.

Hallo ada apa As? Tumben malem-malem begini.. jawab Bimo, yg diikuti dengan suara menguapnya.

Oh, enggak apa-apa koq..kamu baik-baik saja Bim? tanya Astrid

Baik, memangnya kenapa?

Oh, enggak.. udah gitu aja Bim.. selamat tidur lagi ya.. maaf ganggu.. akhir Astrid seraya menutup ponselnya, dan memasukannya lagi kedalam tasnya, hatinya bersukur karna memang ternyata tak ada terjadi suatu apapun terhadap diri Bimo.

Sepertinya akan lebih baik kalau aku tinggalkan saja mobil ini disini, biar aku menggunakan taksi sampai dirumah.. ujar Astrid, seraya dibukanya pintu mobil untuk keluar.

Terserah kau, tapi sebelumnya kau harus dorong mobil ini kedalam sungai itu.. bisik Romlah, yg bagaikan kerbau dicucuk hidungnya Astrid segera menuruti apa yg dikatakannya.

Kekuatan mistis dari roh Romlah membuatnya begitu mudah mendorong mobil itu hingga masuk kedalam sungai yg tepat berada ditepi jalan raya Bogor. Tingginya air sungai pada musim penghujan seperti itu membuat mobil jeep itu langsung tenggelam tak berbekas, seolah ditelan masuk oleh dalamnya air sungai.

Astrid melihat pada jam tangannya, yg saat itu telah menunjukan tepat jam 12 tengah malam, ditunggunya beberapa saat dipinggir jalan yg sunyi itu, beberapa kendaraan pribadi dan angkot melintas didepannya namun tak satupun taksi yg dilihatnya, seraya dibukanya kembali tasnya untuk mengambil ponselnya. Dibukanya aplikasi Map untuk mengetahui dimana tepatnya posisinya berada.

Hallo, TAXIKU. iya, jalan raya Bogor KM 38 ya mas. sekitar Cilodong.baik saya tunggu.terima kasih.. cakap Astrid kepada seorang operator, untuk memesan taksi via telpon layanan 24 jam.(koq kesannya kayak iklan terselubung ya?)

*******
Hangatnya sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar itu, menjilat genit ke wajah mulus seorang gadis yg masih terlelap dalam mimpinya. Dialah Astrid, yg pada pukul satu dini hari tadi baru tiba dirumahnya, setelah melalui serangkaian peristiwa buruk yg dialaminya semalam.

Jilatan sinar matahari yg menerpa wajahnya bagaikan sentuhan hangat yg membangunkannya dari keterlelapan, matanya mulai terbuka, seraya memicing oleh silaunya sinar yg menerpanya, alisnya tampak mengkerut dengan bibir yg sedikit dimonyongkan.

Terdiam sesaat, lalu diliriknya jam didinding yg telah menunjukan pukul delapan pagi, sebelum akhirnya tubuh itu bangkit dan dibukanya jendela kamar yg membuat sinar matahari pagi itu seolah menerkam tubuhnya dengan cahaya yg menyilaukan. Yg pertama dilihatnya adalah mobilnya yg masih terparkir dihalaman rumah, baru dini hari tadi dia mengambilnya di area parkir Rumah sakit Pertamina, setelah sebelumnya menumpang Taksi dari jalan raya Bogor.

Dengan berlari kecil Astrid menuju kearah pintu, setelah didengarnya beberapa kali ketukan dari luar pintu kamarnya.

” Oh, papa…met pagi pa..” sapa Astrid, setelah membukakan pintu kamarnya.

” Pagi, Anak papa yg cantik ini koq jam segini masih dikamar sih… Papa berangkat dulu ya sayang” pamit Prayogo, ayah Astrid, seraya mengecup kening anak gadis semata wayangnya itu.

” Oh, iya..tadi malam kenapa sampai larut sekali kamu baru pulang, dari mana aja sih?” tanya Prayogo

” Mmmm..anu pa.. Semalam ada pagelaran film klasik Indonesia di Taman Ismail Marzuki, yah..berhubung dua film sekaligus yg diputar, terpaksalah As menyaksikannya sampai selesai..habis termasuk film langka sih pa, sulit dicari CDnya, cuma dalam ifen-ifen seperti itu saja kita bisa berkesempatan nonton” jawab Astrid berbohong.

” Ya sudah kalau begitu.. Kamu sarapan dulu sana, sudah disiapkan nasi goreng kesukaan kamu oleh Mak Cicih, nanti keburu dingin lho..” saran Prayogo, seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Astrid.

” Hati-hati dijalan pa… ” ucap Astrid, saat ayahnya melangkah untuk meninggalkannya.

” Iya sayang, terimakasih… Oh iya film jadul apa aja yg diputar tadi malam? ” tanya Prayogo iseng, sambil tetap terus melangkah, yg membuat Astrid agak gelagapan untuk menjawab.

” Mmmm..anu pa, “Tiga dara” sama “Lewat jam malam”…” jawabnya asal, beruntung dirinya memang sedikit banyak paham, dan cukup apresiatif dengan film-film nasional tempo dulu.

******

Selesainya sarapan, pikiran Astrid kembali teringat pada kejadian-kejadian semalam. Vera…, Astrid telah menduga sebelumnya, kalau gadis itu pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan Bimo, termasuk ulahnya semalam yg mencoba untuk menculiknya. dan tiga orang yg menculiknya semalam, kini telah mati, setidaknya itulah yg dikatakan oleh Romlah, itu artinya dia telah melakukan pembunuhan lagi, bahkan tiga orang sekaligus. Ah, tidak.. bukan aku yg melakukan pembunuhan itu, itu adalah perbuatan Romlah, perbuatan orang lain, sanggahnya. Tapi apakah betul begitu adanya? yg pasti orang-orang itu mati dengan tangannya, ya, dengan tangannya ini, hukum akan memutuskan seperti itu, itu pasti. Kembali dirinya mulai meragukan sanggahannya.

Lalu bagaimana dengan Vera? Berpegang dengan apa yg dikatakan Romlah semalam, sepertinya gadis itu mengetahui kalau dialah yg membunuh ketiga pemuda itu, tiga pemuda yg juga adalah mahasiswa ditempat Astrid kuliah, walaupun dirinya tak mengenal secara dekat dengan mereka.

Bagaimana bila Vera melapor kepada pihak berwajib kalau dialah yg membunuh ketiga orang itu, tentu habislah dia. Namun apa yg dikatakan Romlah semalam sepertinya masuk akal, tak mungkin Vera akan sebodoh itu untuk melaporkan peristiwa pembunuhan ketiga temannya kepada polisi, itu sama saja dengan bunuh diri, karna kejahatan yg dilakukannyapun tentu akan terbongkar, yaitu melakukan penculikan terhadap dirinya, belum lagi dengan penggunaan narkoba. setidaknya untuk saat ini posisinya masih aman. Lalu bagaimana reaksi Vera nanti saat melihat dirinya dikampus, apakah dia akan menjerit ketakutan, atau justru akan membalasnya. Ah, semakin pusing dirinya memikirkan hal itu semua.

Lamunannya pecah saat Mak Cicih datang untuk memberesi piring-piring sisa sarapan dimeja, wanita tua yg bekerja paruh waktu dirumah itu,

Astrid kembali kekamarnya, kini lamunannya tertuju kepada kekasihnya, Bimo. Disaat-saat pikirannya gundah seperti itu, sebetulnya ingin sekali dirinya dapat berbagi dan berkeluh kesah dengannya, tapi hati kecilnya justru menghendaki kalau Bimo jangan sampai mengetahui akan kejadian ini semua, kejadian yg mengerikan, yg membuatnya justru kawatir kalau Bimo akan menganggapnya sebagai seorang psikopat seandainya dia tau. Namun tetap saja dia ingin saat itu Bimo berada disampingnya, walaupun tidak dapat membantu apapun atas masalah yg menimpanya, setidaknya kehadiran kekasihnya itu dapat memberikan ketenangan dan pelipur kegundahan dihatinya. Disamping juga dia telah berjanji pada dirinya bahwa hari ini akan diberikannya senyum termanis yg dia miliki, setelah dua hari dirinya selalu menyajikan wajah jutek kepada Bimo. Ya, dia akan bersikap sehangat mungkin pada Bimo dikampus nanti. Dikampus? Mengapa,harus menunggu nanti? Pikir Astrid. Bibir gadis itu mulai tersenyum. Sebaiknya kutelpon dia, aku butuh kehangatannya saat ini, ya..kehangatan pelukannya, dan….aahh.. Libidonya mulai bangkit, seraya diraih ponselnya..

Hallo yang, met pagi.. sapa Astrid

Pagi jawab Bimo, lalu Bimo terdiam seolah sedang menunggu sesuatu yg diucapkan Astrid.

Kamu masih marah yang..? sambung Bimo lagi, setelah tak ada lagi kalimat yg diharapkannya keluar dari mulut Astrid

Enggak kenapa memang? heran Astrid

Enggak apa-apa sih, mmm..kamu bener-bener enggak tau ya As? tanya Bimo lagi, sepertinya ada nada kekecewaan dari suaranya.

Kamu kenapa sih yang? tanya Astrid bingung

Enggak apa-apa koq.. mmm..kebetulan hari ini ulang tahunku yg ke 21.. ujar Bimo

Ya, ampuuuunnn maapin aku dong yang..aku bener-bener enggak tau deh, maapin ya yang..plis deh.. mohon Astrid, yg sesungguhnya memang dirinya belum tahu kapan tanggal lahir kekasihnya, karna memang belum genap seminggu mereka menjalin hubungan asmara.

Ah, enggak apa-apa koq, aku maklum..

Yang..kamu main kerumah dong..aku kangen nih.. pinta Astrid manja

Oke deh..tunggu sebentar ya, aku mandi dulu..

Betul ya?….. oh, iya.. sekalian dibawa buku-bukunya, biar berangkat kuliahnya langsung dari sini aja.oke. aku tunggu lho, mmuuaachh.. ujar Astrid, sekaligus menutup pembicaraan mereka, seraya dirinya menuju kekamar mandi, membersihkan diri untuk tampil secantik mungkin dihadapan sang pujaan hati, dan. Seseksi mungkin..mengapa tidak?. Batinnya, sambil bersenandung kecil.

*****

Air dingin yg memancur dari shower sprayer begitu menyegarkan tubuhnya, dengan telaten jemari tangannya meratakan sabun keseluruh tubuhnya, dirinya ingin saat lidah Bimo menelusuri setiap jengkal tubuhnya, semua dalam keadaan bersih, tak ada lagi menyisakan aroma-aroma yg tidak sedap. Jemari lentik itu mulai menggosoki selangkangannya, terus hingga pada bokong dan lubang pelepasannya.

Sial.. sepertinya tadi malam lubang anusku benar-benar bonyok dipakai bersenang-senang oleh Romlah, dasar mahluk cabul..maniak.. gerutunya dalam hati, setelah ada dirasakannya sedikit berbeda saat menggosokan jemarinya pada area lubang anusnya itu. Terbayang olehnya tiga pemuda yg besar-besar itu menjadikan lubang duburnya sebagai bancakan bagi mereka.

Astrid masih ingat waktu dukun Ki Joko Goblok yg juga menyodomi lubang analnya, walaupun bukan jiwanya yg memegang kendali, namun saat itu Astrid masih sadar, dan juga dapat ikut merasakannya, serta juga tidak dipungkiri bahwa dia turut menikmati sensasinya. Sisi liarnya membayangkan saat tiga pemuda itu mengGangbang dirinya, Sayang saat itu aku tidak sadarkan diri, kalau tidakmmm..kayaknya seru juga tuh, pikirnya, seraya ditepisnya pikiran gilanya itu diikuti dengan senyum. Ah, dasar.., mulai ketularan mesum juga aku ini.

******

Software Jet Audio dari Laptop dikamar itu memainkan lagu Iam too sexy dari Right Sight Fleed
Iam too sexy for my love
Too sexy for my love
Loves going to leave me
Iam too sexy for my shirt
Too sexy for my shirts
Too sexy for it hurts
..
..Lagu yg mengiringi Astrid mematut-matutkan dirinya didepan cermin, tubuhnya dimiringkan kekiri, lalu kekanan kemudian kedepan lagi. Celana pendek berbahan kaos membugkus selangkangannya, teramat pendek bahkan, mungkin tak sampai 20cm bila diukur dari pangkal sampai keujungnya, sehingga mengekspos paha putihnya yg mulus dan berisi, ukurannya yg ketat memberikan cetakan hutuf V pada selangkangannya yg memang sengaja tak lagi mengenakan celana dalam, berpadu dengan t-shirt ketat tanpa lengan yg membungkus bagian atasnya, pun tanpa lagi menggunakan BH, membuat buah dadanya yg bulat besar tampak membusung, dengan belahannya yg mengintip genit dari lubang leher t-shirt.

” Wow… You so fucking hot, girl…” gumam Astrid pelan, seolah bicara pada pantulan dirinya yg berada dicermin. Sesekali tubuhnya meliuk-liuk mengikuti irama musik, sambil tatapannya terus tertuju pada cermin.

Suara klakson mobil terdengar dari luar pagar rumahnya, dengan antusias Astrid berlari kecil kearah jendela kamar, “Yess…pangeranku telah tiba “,pekik Astrid pelan, setelah dilihatnya mobil Bimo dari jendela, segera dirinya keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang utama, dilihatnya Mak Cicih berjalan tergopoh-gopoh menuju pintu pagar

Selamat ulang tahun ya sayang maap nih aku gak sempat ngasih kamu kado.. sambut Astrid sambil memeluk dan mengecup lembut bibir Bimo

” Woooowww…. Gak tahan aku as…” ujar Bimo, saat dengan tercengang matanya menyisiri tubuh Astrid dari ujung rambut sampai ujung kaki, jakunnya terlihat bergerak turun naik. Agak salah tingkah juga Astrid dengan tatapan Bimo yg seperti itu, walau hati kecilnya sebetulnya begitu bangga, bahwa penampilan seksinya sungguh-sungguh membuatnya terpana.

” Gak tahan pingin apa?” balas Astrid menggoda

” Pingin boker..” banyol Bimo, yg langsung disambut dengan hujanan cubitan oleh Astrid yg merajuk manja.

” Ih, jahat kamu…aku udah tampil seksi abis begini, malah dibilang membuatmu pingin boker” rajuk Astrid, yg sebenarnya tau kalau kekasihnya itu hanyalah bergurau.

” Ha..ha..ha.. Becanda kali… Jadi sekarahg udah enggak ngambek lagi nih?” goda Bimo

” Enggak lah, masa’ ngambek terus-terusan sih… Apa pingin kalau aku ngambek lagi? ”

” Eh, jangan dong… Bisa merana didalam kesedihan diriku.” ujar Bimo, sambil merapatkan kedua telapak tangannya, seolah memohon ampun pada Astrid, yg membuat Astrid hanya tersenyum.

” Ayo langsung masuk aja yang…” ujar Astrid sambil melangkahkan kakinya kedalam, dari belakang dengan nakalnya mata Bimo menatap bokong Astrid yg yg terbungkus celana super seksi itu, seolah menawarkan padanya untuk segera dinikmati. Astrid sadar betul dengan apa yg diperhatikan Bimo, semakin menjadi dirinya memainkan syahwat pemuda itu, seraya dirinya berpura-pura merapikan taplak meja diruang tengah, tubuhnya ditundukan, yg membuat bokongnya menyembul kearah Bimo, dan dengan nakalnya seolah tidak disengaja, bokong itu begoyang-goyang saat Astrid berpura-pura mengelap debu diatas meja.

” Duduk dong sayang, masa’ bengong begitu sih..” tawar Astrid, semakin yakin dirinya bahwa aksinya itu berhasil membuat birahi pemuda itu berdesir.

” Mau minum apa bim? ”

” Ah, air putih saja lah..” jawab Bimo, sambil melirik Astrid yg menghempaskan pantatnya disofa, tepat disampingnya yg juga duduk disofa yg sama.

” Mak Ciciiiih..tolong kesini sebentar mak..”,panggil Astrid kepada pembantu dirumah itu, yg beberapa detik kemudian Mak Ijah telah berdiri didepan mereka.

” Ada apa non?” tanya Mak Ijah masih dengan kemoceng ditangannya.

” Tolong ambilkan air putih ya mak.. Oh iya, Masih ada cemilan apa aja mak? ”

” Tinggal kacang sama biskuit tuh non..”

” Pingin apa Bim, kacang apa biskuit?” tanya Astrid kepada Bimo

” Kacang aja deh…” jawab Bimo

” Termasuk kacang mu ” tambah Bimo, kali ini dengan berbisik, yg membuat Astrid mencubit perutnya dengan manja.

” Ya udah, ambil kacangnya aja Mak… Buahnya masih ada? ”

” Tinggal pisang non, itu juga sisa sarapan tadi..”

” Kalo gitu sekalian bawa pisangnya juga kesini..”

Tak beberapa lama kemudian Mak Cicih telah kembali dengan pesanan yg diminta Astrid.

Kini tinggal Astrid yg sedikit merasa kurang nyaman dengan keberadaan Mak Cicih. Pagi itu Astrid benar-benar ingin berdua saja dengan Bimo, ingin ditumpahkannya segala rasa dan hasrat yg ada pada dirinya saat ini kepada kekasihnya itu. otaknya mulai mencari cara yg paling masuk akal untuk mengusir pembantu yg jujur dan setia itu.

Mmm.. Mak, tolong itu baju-baju kotor yg numpuk dibelakang, langsung dibawa ke laundry aja ya.. pinta Astrid kepada Mak Cicih.

Sekarang Non..?

Iya, sekarang.. terus abis dari laundry, Mak Cicih bisa langsung pulang Seperti biasa, besok pagi baru kesini lagi..

Tapi saya belum nyapu sama ngepel non, lagian ini juga masih pagi.. heran mak Cicih, perempuan tua yg biasanya bekerja disitu mulai selepas beduk subuh dan baru pulang kembali kerumah kontrakannya selepas Asar.

Gak apa-apa Mak, besok aja sekalian.. lagian juga masih bersih koq

Baiklah kalau begitu non, Emak langsung ke Loundry aja sekarang.. ujar Mak Cicih, perempuan tua yg juga pernah muda itu mulai tanggap dengan apa yg diinginkan anak majikannya itu, seraya dirinya ngeloyor kebelakang.

Dasar anak jaman sekarang, masih belum nikan udah berdua-duan didalam rumah, pikir mak Cicih, tapi dirinya tetap bersenang hati, itu artinya siang ini dia bisa berleha-leha dirumah kontrakannya.

Bisa aja kamu, kalau udah ada maunya jalan aja tuh otak.. orang kerja dibayar, eh..lagi kerja malah disuruh pulang.. sindir Bimo, sambil merauk kacang goreng dari dalam toples.

Ih, kamu koq gitu deh.. malu Astrid, sambil mencubit lengan Bimo Aku kan nyuruh dia pulang biar dia bisa istirahat dirumah he..he..he.. tambah Astrid dengan cengengesan.

******

Sementara Bimo menikmati kacang goreng, tangan Astrid meraih pisang yg juga disediakan Mak Cicih, dibuka kulitnya dengan perlahan. Sambil melirik pada Bimo, pisang ambon yg lumayan besar itu dimasukan kedalam mulutnya, bukan untuk dimakan, melainkan hanya dikulum sambil matanya tetap melirik nakal kearah Bimo yg melongo menyaksikan aksi yg ditunjukan Astrid, terutama saat pisang itu berhasil masuk seluruhnya kedalam mulut, yg hanya menyisakan sedikit ujungnya sebagai pegangan.

Sebuah atraksi yg membuat birahi Bimo mendesir, yg memancingnya untuk melakukan reaksi dengan mengambil alih ujung pisang yg dipegang Astrid, seraya Bimo menggerakannya maju mundur didalam mulut kekasihnya itu, sesekali dengan iseng ditekannya hingga benar-benar masuk seluruhnya, lalu ditahannya beberapa saat yg membuat mata Astrid sampai berkaca-kaca.

Uuuuuuhhhhhh..kamu seksi sekali sayang, terus dong.. diemut pisangnya ya sayang gumam Bimo sambil melancarkan aksinya.

Ghlok..ghok..ghlok..goksloop..sloopp.. aacckkhhh suara dari mulut Astrid yg terdengar sensual bagi Bimo, yg kemudian dicabutnya keluar pisang dari dalam mulut Astrid, dan dengan rakus dilumatnya mulut yg saat itu belepotan cairan ludah kental disekitar bibir dan dagunya. Bagai musafir yg kehausan dipadang pasir, mulut gadis itu ibarat sumur oasis bagi Bimo, sumur oasis yg harus dihirup airnya untuk menghilangkan dahaganya, dan dihirupnya air yg menyegarkan baginya itu, yg adalah air liur Astrid, disedot-sedotnya dengan liar air liur yg melekat pada dagunya hingga kering, seolah belum puas, lidahnya mencari-cari kedalam rongga mulut Astrid, merangsak, menjilat-jilat, memoles-moles apa saja yg ada didalamnya, termasuk juga lidah Astrid, dan kedua lidah itu kini saling berpilin, sesekali dikulum dan disedot-sedotnya lidah gadis itu, kedua mulut yg mengeluarkan hembusan nafas yg panas, sepanas birahi mereka yg mulai merayap dipagi itu.

Puas dengan saling berpagutan, Bimo meraih pisang yg diletakan diatas sofa, pisang yg sebelumnya menerima aksi blow job dari mulut Astrid.

Lihat, apa yg akan kulakukan dengan benda ini sayang ujar Bimo sambil mengacungkan pisang itu kewajah Astrid.

Digesernya meja didepan sofa, untuk kemudian Bimo bersimpuh dihadapan Astrid dengan lutut dan sikunya yg bertempu pada lantai, dengan mudah Bimo menarik celana pendek berbahan kaos yg menutupi selangkangan Astrid, dan dicampakannya begitu saja dilantai.

Wah..enggak pakai celana dalem nih? goda Bimo, saat tatapannya tertuju pada belahan garis vertikal dengan bulu-bulunya yg tertata rapi alami diatasnya. Kedua paha yg masih saling merapat itu perlahan mulai direnggangkan oleh siempunya, yg membuat belahan garis vertikal itu juga ikut menguak, hingga membentuk celah saat paha Astrid benar-benar mengangkang, memperlihatkan isi-isi didalamnya yg berwarna kemerahan yg mulai berkilat oleh cairan birahi yg melumasinya.

Ujung pisang yg ada ditangan Bimo kini diarahkan tepat dimuka liang memek Astrid, sekali dorongan lembut meneggelamkan separuhnya, yg diikuti dengan desahan lembut Astrid, ditekannya terus kedalam hingga masuk seluruhnya menelan buah pisang yg telah lepas dari kulitnya itu, perlahan mulai digerakannya maju mundur secara berirama.

AauuugghhhhNakal kamu sayang. Awas ya kalau sampai patah didalem gumam Astrid, yg kedua tangannya kini mulai meremasi buah dadanya sendiri.

Seperti apa yg dikawatirkan Astrid, saat otot-otot vaginanya berkontraksi menjepit pisang yg berpenetrasi didalam liang senggamanya, separuh bagian dari ujung pisang itu patah tertinggal didalam, yg membuat Bimo terbengong sambil menatap sisa pisang yg masih setengah ditangannya, lalu tatapannya kembali mengarah pada selangkangan Astrid, sisa pisang yg setengahnya lagi seolah hilang tertelan dalam liang vagina, dan sama sekali tak terlihat sekalipun hanya ujungnya.

Tuh kan yangaku bilang juga apa..patahkankamu sih protes Astrid, namun masih dengan nada yg manja.

Wah hilang yang.. gimana nih, bisa dikeluarin enggak? panik Bimo, yg hanya ditanggapi Astrid dengan senyum nakal, karna dirinya yakin itu bukanlah masalah yg berarti baginya.

Bisa, tapi kamu harus jaga pakai mulut kamu..

Maksudnya gimana? tanya Bimo masih belum paham

Buka mulut kamu lebar-lebar tepat didepan meki aku.. Ayo..!! kamu harus bertanggung jawab lho..kan kamu yg bikin patah.. goda Astrid, yg segera diikuti oleh Bimo dengan membuka mulutnya lebar-lebar tepat mengarah pada lubang vagina didepannya.

Dengan kedua paha mengangkang dan kaki diangkat diatas sofa., kedua tangan Astrid menyibak bibir vaginanya, sehingga tampak merekah lebar,

Ayo siap-siap sayang. Mmmhhhh.. ujar Astrid mulai mengedan untuk mengeluarkan potongan pisang dari dalam liang memeknya.

Satuuuduaaatigaaaaaa.. hitung Astrid, yg pada hitungan terakhir, sisa potongan pisang itu keluar tepat masuk kedalam mulut Bimo yg menganga. Suatu sensasi yg luar biasa bagi dirinya, terutama saat bagaimana mula-mula dilihatnya otot-otot vagina Astrid yg tampak berkedut-kedut, lalu secara perlahan dari liang nya mulai tampak ujung dari benda yg dinyatakan hilang itu, yg semakin lama potongan pisang itu tampak semakin jelas menyeruak keluar oleh dorongan otot-otot vagina Astrid, hingga akhirnya, plupjatuh tepat kedalam mulutnya yg menganga.

Horeeee.Goooll…hi..hi..hi pekik Astrid, saat potongan pisang itu tepat masuk kedalam mulut Bimo, yg langsung dikunyah dan ditelannya.

Nakal kamu ya Bangkit Bimo, seraya dihentikan tawa Astrid dengan lumatan mulutnya yg seolah ingin menelan bibir indah yg menggoda itu.

Sambil berpagutan, tangan Astrid mulai membuka kancing dan reseleting celana Bimo. Mengerti apa yg diinginkan Astrid, dengan masih saling berpagutan Bimo melepaskan celana Jeans sekaligus dengan sempaknya, sehingga batang kontolnya yg sudah berdiri tegak, tampak mengacung kearah Astrid, yg langsung digenggam dan dikocok-kocokannya.

Pisang yg ku oral tadi belum bisa memuaskan aku yang aku butuh yg lebih besar dan keras dari sekedar pisang.. bisik Astrid, sambil melepaskan dirinya dari rangkulan Bimo, lalu dengan cepat gadis itu telah bersimpuh dibawah sofa, Bimo yg paham apa yg dimaksudkan Astrid, segera menghempaskan pantatnya diatas sofa. T-shirt yg masih melekat pada tubuhnya dilepas hingga dirinya bugil sama sekali, lalu melakukan hal yg sama dengan melepas t-shirt yg masih melekat pada tubuh Astrid, sehingga buah dadanya yg besar kini menyembul memberikan pemandangan yg indah dihadapannya.

Tanpa prolog, batang kontol Bimo langsung ditelannya masuk kedalam mulutnya, dikulumnya dengan rakus, sambil kepalanya mulai dinaik turunkan secara berirama.

Tiba-tiba Astrid menghentikan aksinya, seraya menatap nakal kearah Bimo

Ingin melihat bagaimana rudalmu kutelan habis seperti pisang tadi yang tantang Astrid

Emang bisa? Rudalku tidak seukuran dengan pisang tadi lho ragu Bimo, yg langsung dijawab oleh Astrid dengan memasukan batang kontol Bimo dalam mulutnya. Keraguan Bimo ternyata terbantahkan dengan apa yg disaksikan saat itu, saat batang kontolnya yg berukuran besar, bahkan mungkin dua kali lipat dari pisang ambon tadi, kini benar-benar hilang didalam rongga mulut Astrid, menyisakan biji pelirnya yg terjepit diantara bibir Astrid yg sesekali meneteskan air liur kental dari sela-selanya.

Beberapa detik kemudian gadis itu melepaskan benda yg berada didalam mulutnya, nafasnya terengah-engah sesaat, bagaikan seseorang yg baru muncul dari permukaan air setelah menyelam.

Woouuwwluar biasa kamu yang.. puji Bimo, seraya memagut bibir Astrid yg belepotan oleh air liurnya sendiri.

*****

Astrid naik keatas Sofa, mengangkangi Bimo yg masih duduk diatasnya, mengarahkan memeknya tepat kewajah kekasihnya itu.

Jilatin memek aku dong yang.plis deh. Pinta Astrid manja, sambil kedua tangannya memegang kepala Bimo dan membenamkan kearah selangkangannya. Tanpa dimintapun Bimo dengan suka rela akan melumat sekerat daging basah yg ada didepannya itu, lidahnya mulai menjilat-jilat, menyelinap masuk kedalam liang senggamanya, mencari-cari dan mengoas dinding-dinding vagina yg basah, aroma khas lubang memek yg telah basah dilanda birahi bagaikan pelecut gairahnya, hingga sesekali disedot-sedotnya seperti hendak menghisap isi didalamnya.

slaapp..slaappsryyuuuffffsrrooottttAeeemmm..aaa hhh..sedaaapp yang..aahhh gumam Bimo, sambil tangannya meremas bongkahan bokong Astrid yg padat berisi.

Aauuuggghhhhh.aaahhhhenak yang..terus yang itilku yang..itilku..iya betul..aaaahh erang Astrid

Aaauuuwwww ih, jahat kamu yangkoq itilku kamu gigit sih sayang.. pekiknya, saat dengan gemasnya Bimo menggigit sekelentit daging kecil seukuran kacang yg berada diatas bibir vagina.

Sorry yang..aku gemes banget sih..sama itil kamu yg imut inimmuuuaaahhh.. sesal Bimo seraya mengemut dengan gemas klitoris Astrid.

Beberapa saat kemudian Astrid agak menundukan tubuhnya, seraya tangannya meraih sebatang daging tegak yg ada diselangkangan Bimo. Bokongnya seperti mencari-cari saat Astrid mencoba mengepaskan lubang memeknya dengan ujung batang kontol yg ada dalam genggamannya, setelah dirasakannya kepala helm itu telah berada pada sasaran yg tepat, bokong itu bergerak turun dengan perlahan seiring dengan masuknya batang kontol Bimo menembus liang memeknya, yg diikuti oleh desahan lembut dari bibir Astrid.

Astrid mulai memompakan bokongnya turun naik dengan posisi WOT, sementara Bimo dengan rakus mengulum dan menjilati buah dada Astrid, sambil kedua tangannya merangkul punggung kekasihnya itu.

Keringat mulai membanjiri tubuh mereka berdua, terutama Astrid, yg memang lebih banyak melakukan gerakan yg menguras tenaga dengan aksi pompanya.

Pagi itu Astrid benar-benar terbawa oleh emosi birahinya, emosi yg akan ditumpahkannya sepenuhnya pada Bimo, untuk dirinya sendiri, ya, untuk dirinya seorang, setelah beberapa hari yg lalu dirinya harus rela berbagi dengan mahluk lain, bahkan bukan sekedar berbagi, justru mahluk itulah yg sepenuhnya memegang kendali, sementara dirinya hanya dapat merasakannya saja. Suatu hal yg sebenarnya membuat Astrid cemburu dengan mahluk yg diketahuinya bernama romlah itu. Namun kali ini dia yakin bahwa mahluk itu tidak akan muncul mengganggu kesenangannya, dia telah hapal betul dengan keberadaan mahluk itu, yg hanya akan muncul pada saat malam hari saja, dan akan menghilang sama sekali pada saat pergantian hari, yaitu tepat pukul dua belas malam, dan akan muncul kembali pada keesokan malamnya.

Hingga beberapa saat kemudian terdengar lenguhan panjang Astrid seiring tercapainya puncak birahi yg didaki, goyangannya semakin bertenaga dan sesekali menghentak-hentak kasar.

Aaaaauuuuhhhgggggg.. aku sampai yang aaaaaahhhhhh gumam Astrid, sambil memeluk erat tubuh Bimo, hanya berselisih beberapa detik hal yg sama terjadi pada Bimo, yg diikuti dengan mengangkat tubuh Astrid yg ada dipangkuannya, dan dengan cepat diletakannya tubuh kekasihnya itu diatas meja didepannya, sehingga dengan leluasa Bimo menghantamkan rudalnya dengan kecepatan tinggi dan bertenaga.

Aaaaaaahhhhhh.. lenguhnya, sambil bokongnya menghentak-hentak seiring keluarnya sperma yg menyirami rahim Astrid. Hingga beberapa detik kemudian hentakan bokongnya hanya tinggal satu dua, dan akhirnya berhenti sama-sekali seiring habisnya sperma yg keluar untuk saat itu.

Untuk beberapa saat lamanya Bimo masih belum rela melepaskan batang kontolnya dari dalam memek Astrid. Sambil mengobrol atau bercanda ringan alat-alat kelamin mereka masih saling berpagutan, seolah bersinergi dengan air mani yg telah mereka tumpahkan.

******

Masih dengan tubuh telanjang, kedua sejoli itu menggelosorkan tubuhhya diatas sofa, rasa letih seusai melakukan pendakian birahi yg melelahkan sekaligus menghanyutkan pada beberapa menit lalu berangsur mulai pulih.

Astrid yg sebelumnya berbaring diatas sofa dengan berbantalkan pada paha Bimo perlahan bangkit, kini keduanya saling duduk berdampingan. Jemari lentiknya meremas nakal batang kontol Bimo yg masih layu, seraya bibirnya didekatkan kearah telinga Bimo, lalu berbisik dengan lembut.

” Aku ingin memberikan kado spesial dihari ulang tahunmu ini yang…” bisik Astrid

” Oh, ya.. Kado apa tuh? Berarti kamu memang sudah menyiapkan sebuah kado untukku kan? Kenapa enggak dikasih dari tadi sih…. Oh..ceritanya surprise nih… Oke deh, apa perlu aku harus tutup mata..?” duga Bimo, yg hanya dibalas oleh senyuman oleh Astrid.

” Kamu enggak perlu tutup mata koq..” ujar Astrid, seraya bibirnya kembali didekatkan pada telinga Bimo.

” Kado spesial yg kuberikan adalah… Kau boleh melakukan anal seks denganku..” ujar Astrid, yg membuat Bimo langsung menelan ludah mendengarnya.

” Bagaimana sayang… Kamu bersedia menerima kado spesialku? ”

” Glek..yg bener nih?” ujar Bimo, batang kontolnya yg sebelumnya loyo, perlahan mulai menegang lagi, ditambah dengan sentuhan tangan Astrid meremas-remasnya.

” He-emm…” angguk Astrid sambil tersenyum.

Lalu kembali Astrid berbisik ditelinga Bimo ” Nikmati lubang anusku sesuka hatimu sayang…”

Sebuah perkataan yg begitu vulgar yg membuat birahi Bimo mendesir

Dengan gerakan perlahan, serta tatapan tetap tertuju kemata Bimo, Astrid memposisikan dirinya menungging diatas sofa, kedua tangannya berpegangan pada sandaran sofa, sehingga membuat bokongnya yg bulat tampak menantang.

Semakin bernafsu Bimo melihat posisi Astrid yg seperti itu, dengan bongkahan pantat yg menyembul kebelakang seolah siap untuk disodok pada lubangnya.

” Ayo sayang…silahkan dinikmati kadonya…” goda Astrid, dengan senyumnya yg memabukan, bertambah menggemaskan saat mata itu sesekali mengerling genit pada Bimo.

Dan bertambah menggebu birahi Bimo saat jari telunjuk Astrid diemutnya beberapa saat, sebelum akhirnya jari itu ditusukannya pada lubang analnya sendiri.

” Ayo Bimo sayang….” goda Astrid, sambil mencolok-colokan jari telunjuknya secara berirama. Air ludah yg melumasi jari yg berpenetrasi itu menimbilkan bunyi berkecipak, yg terdengar oleh Bimo bagaikan irama pembangkit birahi, sehingga dengan bernafsu diremasnya bongkahan pantat yg kenyal itu, dipegangnya tangan Astrid yg masih mencolok-colok lubang anusnya, untuk kemudian ditariknya keluar. Jari telunjuk yg baru saja keluar dari saluran pelepasan itu dengan rakus dikulum oleh Bimo, aroma khasnya membuatnya semakin bergairah.

Kini pandangannya tertuju pada lubang mungil dihadapannya, dengan kerutan yg terdiri dari beberapa garis yg ujungnya bertumpu pada satu titik. Pada titik pusat itulah ujung lidah Bimo mengarah, seraya digelitiknya beberapa saat, yg membuat titik itu kembang kempis seperti mengempot, sebuah momen yg erotis bagi Bimo, yg membuatnya langsung menancapkan ujung lidahnya menerobos masuk kedalam rongganya, separuh lidah Bimo telah berhasil menerobos liang anusnya, untuk kemudian digoyangkannya naik turun, yg membuat mata gadis itu terpejam menikmati lembutnya lidah Bimo yg berpenetrasi pada liang anusnya.

Uuuuuggghhhhenak Bimuuuuhhh racau astrid sambil tangan kanannya menjambaki rambut Bimo.

Puas mengoral lubang anus Astrid, Bimo bangkit, ujung basokanya yg telah berdiri tegak dioleskannya beberapa kali dengan air liurnya, dan sejurus kemudian blessmelesak masuk batang kontolnya menerobos lubang anus gadis itu, sampai terpejam mata pemuda itu menikmati anal seks untuk yg pertama kalinya itu.

Aaaaahhhhh. Enak sekali yang, aaahh..legit.. gumam Bimo sambil terus menghujamkan basokanya maju mundur.

Apanya yg enak sayaaang goda Astrid, sambil tangan kanannya menggosok-gosok liang memeknya. Sendiri.

Kado spesial yg kamu berikan sayang jawab Bimo

Iya.. apa dong? tanya Astrid lagi seolah belum puas dengan jawaban yg diberikan Bimo

Lubang anusmu jawab Bimo

Beberapa menit kemudian goyangan bokong Bimo semakin cepat dan bertenaga, seolah liang anus itu telah mampu beradabtasi dengan benda besar yg menghujaminya, sehingga dengan mudah batang kontol Bimo maju mundur secara berirama.

Astrid semakin liar menggosok-gosok dan mengobel liang memeknya sendiri, hingga akhirnya terdengar pekikan keras yg menandakan gadis itu telah mencapai orgasme, diikuti dengan bokongnya yg bergerak dengan kasar seolah ingin agar Bimo lebih kuat lagi menghujamkan rudalnya kedalam liang anusnya.

Aaaaaaahhhhhhh.aku kelua..aaaarrr…yyaa..aaanngg.Aahhh pekik Astrid, diikuti dengan tumpahnya cairan bening dari vaginanya yg membasahi dudukan sofa.

Reaksi Astrid saat mengalami orgasme seperti itu tampak begitu sensual bagi Bimo, seperti mendorong birahinya untuk semakin mendekati puncak pelepasan.

Aaaaaahhhggggg. Aku keluaaaaaarrrr teriak Bimo, crott..crott..crott beberapa mili liter sperma dirasakannya menyembur didalam lubang anus Astrid, akhirnya tubuh itu ambruk menindihi tubuh Astrid yg masih menungging. Dan diam untuk beberapa saat untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan pada ronde yg kedua itu.

Terima kasih untuk kado spesialnya sayang kado ulang tahun terindah yg pernah aku terima selama hidupku ucap Bimo, yg diakhiri dengan kecupan mesra pada bibir Astrid.

Sama-sama sayang. Selamat ulang tahun Bimo sayaaaang balas Astrid manja.

Pagi mulai menjelang siang, yg pada saat bersamaan mengakhiri perpacuan birahi kedua insan yg sedang dimabuk asmara itu, yg saat itu masih saling bercerita dan bercengkrama atau sesekali tertawa dan bercanda, dengan masih tanpa melepaskan batang kontol Bimo yg tetap bersarang didalam lubang anal Astrid, yg sekaligus juga adalah kado spesial untuk hari ulang tahunnya itu.

bersambung….

Author: 

Related Posts