Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 27

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 27by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 27The Bastian’s Holiday – Part 27 Chapter III Act IX MAS BASTIAN JAHAT By : Marucil Ahhhhhhhh….. Puas hatiku ternyata trick dari Tante Elin dapat kupraktekan juga pada Bibie. Barusan dia Squirt walau hanya sedikit. Namun aku sangat puas. Kuturunkan tubuhnya setelah tadi ia bergetar begitu hebatnya. Kini aku berbaring disamping tubuh Bibie yang sebelumnya […]

tumblr_n6y0n3BOY61txrs6go6_500 tumblr_n7afucc1SG1txrs6go1_500 multixnxx-My MILF Thread -7The Bastian’s Holiday – Part 27

Chapter III
Act IX
MAS BASTIAN JAHAT
By : Marucil

Ahhhhhhhh…..

Puas hatiku ternyata trick dari Tante Elin dapat kupraktekan juga pada Bibie. Barusan dia Squirt walau hanya sedikit. Namun aku sangat puas. Kuturunkan tubuhnya setelah tadi ia bergetar begitu hebatnya.

Kini aku berbaring disamping tubuh Bibie yang sebelumnya sudah kuluruskan kakinya. Kupegang payudaranya dan kuremas lembut.

“Biee.. Kamu luar biasa yaah ternyata.. Hehe…”

“Ahhh Mas Bastian nih yang luar biasa, bisa bikin Bibie muncrat kaya tadi.. Belajar dari mana Mas?” Tanya Bibie.

“Ada dehh, pokoknya salah satu guruku.” Jawabku seadanya.

“Mas, emang Pacarnya yang kemaren gak bakal marah kalau tahu Mas ngentot sama pembantunya?”

“Yah kalau gak dikasih tahu mana mungkin marah, lagian dia bukan pacar aku kok.. Heheh.” Jawabku.

“Masa, sampe diajak main kerumah masa enggak pacaran, gak mungkin ahhh.” Tanyanya semakin jahil mengorek pribadiku.

“Ihh enggak Biee. Dia cuma temen Kos ku aja… Gak lebih.”
“Nah sekarang aku balik tanya, kalau suami Bibie tahu aku ngentot sama Bibie, kira – kira marah gak suami kamu?” Tanyaku.

“Ahhh, gak usah urusin penjudi itu ah, sebenernya saya dah lama pengen cere sama dia, habis bisanya cuma marah dan nyuruh2, sedangkan dia terus – terusan main judi, gak mikirin anak sama istri.”

“Laah, semalem bilangnya masih cintaa…?” Pancingku.

“Cinta sih cinta Mas… Tapi saya kalau sifat dia masih kayak gitu terus mau tak gugat cere ahhh..”
“Udah ah Mas gak usah bahas suamiku, mending kita seneng – seneng ajaaa…”

“Hehehehe….”

Kurasakan darahku semakin mendidih, tubuhku menjadi semakin panas dan tiba – tiba aku menjadi begitu bersemangat. Kurasakan batang penisku begitu kencang, sehingga terasa hendak meledak. Aku tak tahu ada apa dengan tubuhku. Apa mungkin ini pengaruh minuman yang dibuat oleh Bibie tadi?

“Biee, badanku kok makin panas yah Bie?” Tanyaku sambil memainkan puting susunya.

“Masaa sih..” Jawabnya sedikit cengar – cengir.

“Hmmm… Pasti gara-gara jus mangga tadi yaah. Pasti ditambahin yang aneh – aneh…?” Tanyaku dengan nafas yang semakin memburu.

“Ngak ditambahin apa- apa kok, cuma ditetesin sedikit obat perangsang.”

Fukkk. Dalam hati aku mengumpat. Sialan si Bibie, diam diam dia menaruh obat perangsang diminumanku. Pantas saja penisku terasa sangat kencang. Kutarik nafasku untuk menenangkan diriku.

“Ohhh…. Jadii ditambahiin Obat perangsang yah….”

“Hammmmmmm….”

Tiba – Tiba semangatku membara. Langsung kuterkam payudaranya dengan tanganku. Kuremas dengan kencang tak peduli ia merintih dengan keras. Aku tak peduli. Toh ini semua dia yang mulai. Dengan sengaja ia menaruh obat perangsang pada minumanku. Awas kau Bibie, kamu telah membangkitkan setan dalam tubuhku ini. Aku tak akan bertanggung jawab atas apa yang akan kulakukan setelah ini. Bersiaplah Bibie

Bersiaplah.

“Slruuuuuuppp….”

Kuhisap pentil susu Bibie dan langsung kutarik dengan bibirku. Kuhisap juga seluruh permukaan payudara montok milik Bibie hingga menimbulkan banyak noda merah.

“Aduhhh aahhh.. Banyak banget Mas cupanganyaaa… Aaaahhhhh”

“Terusss mass cupangin terus toket Bibie.”

Mendengar itu aku semakin gemas menggigit payudaranya. Dan semakin kencang juga tanganku meremas. Kulihat ekspresi kesakitan, namun seketika berubah menjadi ekspresi penuh kenikmatan. Wajahnya semakin basah oleh peluhnya. Membuatnya semakin terlihat menggairahkan. Kuremas rambutnya yang masih sedikit basah dan perlahan kujambak dengan lembut.

Kini kumainkan lidahku diseluruh wajahnya. Kujilat seluruh peluh yang keluar dari pori – pori wajahnya. Terasa asin namun semakin membuatku bergairah. Kuremas lagi rambut dan payudaranya, sementara Bibie terus meremas penisku dari samping.

“Sluuurrrppp”

“Leeellll leellll”

Kujilati lubang – lubang hidungnya, beralih kelubang telinganya. Semuanya menimbulkan sensasi yang hanya bisa aku rasakan. Ahhhhh. Bibie melenguh dan sedikit menahan geli setiap kali kugelitik bagian belakang telinganya.

Ahhhhhh….

Kini aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi tubuhku. Lalu kuposisikan tubuhku didepan selangkangannya. Semangatku semakin mendidih, lalu kutempelkan kepala penisku didepan bibir memeknya dan langsung kutancap menghujam memeknya. Kupentokan penisku dan kugoyangkan pinggulku cukup kencang.

Kutekuk kedua kaki Bibie dan kutekan dengan kedua tanganku, lalu kuluruskan kakiku dan kupompa penisku dengan gerakan seperti push up.

Achhhhhhh.

Ooucchhhh…

Mulut Bibie terbuka lebar, seolah hendak berteriak namun tak kunjung bersuara. Kemuadian kupegang kaki kirinya dan langsung kumiringkan tubuhnya kesamping kanan. Kuletakan kakinya didadaku dan kembali kuhujam memeknya dengan penisku. Aku semakin kencang mengocok memeknya, membuat Bibie semakin geloyotan. Achhh.

“Aahhhhhh…..”

“Siapa suruh kasihh Obat perangsang kepadaku, sekarang nikmatin semua permainanku”

“Aouucchhhhhfftttt”

“Ssttttt…..”

Kudorong pinggulku sembari jemariku kembali meremas payudara kirinya. Setelah itu kudiamkan penisku sejenak, lalu kutarik tubuh bibi dan memposisikan pantatnya sedikit menggantung diluar tempat tidur. Lalu aku bergegas turun dari tempat tidur, dan kuletakan beberapa bantal di bawah punggungnya. Kini posisi tubuhnya sudah semakin tinggi dibagian bokongnya. Lalu aku kembali menekan penisku yang mengacung gagah itu kedalam memeknya. Kuletakan kedua kakinya diatas pundakku.

“Ahhhhh”

“Maasss Bas liaar bangeet sih fantasinyaaa.”

“Aahhhh… Pinterrr bangeettt.”

“ouuuuuhhttttt”

Kutahan pinggulnya dengan kedua tanganku, lalu kusorong terus pinggulnya. Beberapa kali Bibie merosot kebawah karena tubuhnya penuh dengan minyak. Untung aku dengan segap menangkapnya dan langsung kuhujam lagi memeknya dengan penisku.

Ohh.. Memek Bibie semakin mencengkram penisku. Semakin kencang seolah penisku dimakannya. Lalu kurasakan dari dalam rahim Bibie ada semacam gelombang yang hendak menerkam. Dan sesaat kemudian penisku serasa terdorong keluar, penisku semakin melesak keluar dari dalam memek Bibie.

SRRooooottt

Sroooottttt

“Achhhhhhhhhhhhhh””

“Eeeeeegggghhhhhhhhh.”

Bibie kembali mendapat squirt yang kedua. Sama seperti sebelumnya, kini tubuh Bibie juga bergetar begitu kencangnya hingga cengkramanku dipantatnya terlepas. Tubuh Bibie terperosok jatuh kelantai, tapi untung saja dibawah ada karpet yang cukup tebal sehingga tidak membuat dia kesakitan.

Dari atas sini kulihat beragam ekspresi dari wajah Bibie. Ekpresi nikmat dari Squirt yang baru saja ia dapatkan, ekspresi rintihan dari rasa sakit akibat jatuh dari cengkramanku serta ekspresi terkejut karena tidak menyangka ia akan jatuh kelantai. Namun melihat semua ekspresi itu membuatku semakin bergairah. Belum lagi nafasnya yang memburu semakin membuat mulutnya menganga lebar.

Tanpa pikir panjang kosodok saja penisku kedalam mulutnya. Aku sedikit menekuk kakiku agar pas dengan mulutnya. Bibie kini bersandar dipinggir tempat tidur. Ia duduk begitu saja, tak berdaya. Namun hal itu tidak membuatku mengasihaninya. Aku justru semakin kencang menyodok penisku di dalam mulutnya.

“Ohooorrggghhhhh”

“Ohooooohhhkkkk”

Hanya itu suara yang keluar dari sela sela bibirnya yang tebal. Ia sama sekali tak bisa bersuara, hanya suara tersedak yang dapat kudengar. Namun itu terdengar sexy ditelingaku. Lalu kurasakan penisku hendak memuntahkan lahar. Namun bukanya aku melepas penisku, aku justru semakin kencang menyentak bokongku.

CROOOTTT

CRooot.

Bahkan ketika aku sudah orgasme aku tetap menyodok mulutnya. Hingga membuat spermaku yang berada didalam mulutnya ikut keluar sesuai gerakan penisku. Aku puas sekali mengerjai mulutnya. Suruh siapa memangunkan. Si Macan Tidur.

“Hahahahahaha” tawaku dalam hati begitu puas dengan perilaku seksku yang kadang kusadari sedikit menyimpang.

“Ahhhhhhhhhhhhhh. Haaaaaaaaaah” Bibie menarik nafas begitu panjang ketika aku melepas penisku dari dalam mulutnya

Spermaku mengalir keluar dari dalam mulutnya. Matanya membelalak lebar, menatapku begitu galaknya seolah ingin menghujatku namun tak kunjung ia lakukan. Lalu kujongkok dihadapannya. Kubela rambutnya. Kini nafsuku sudah sedikit turun, walau penisku masih keras.

Aku menatapnya dan memberikanya senyuman. Namun ia tetap melototiku dengan galaknya. Nafasnya terengah engah, begitu memburu namun terdengar sexy ditelingaku.

“Hiiihhhhhh.. Hiiiihhhh”

“Hiiiiihhh “Hiiiiiiiih”

Payudaranya mengembang kempis dan nafasnya masih sedikit memburu lalu ketika ia sudah mampu mengendalikan dirinya lagi, ia mengeluarkan kata – kata protes atas perbuatanku tadi.

“Mas Bastiaaan…. Jaaaahaaaaaattttt….”

Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirnya setelah cukup lama terdiam dan membelalak. Kupikir ia akan menghujatku habis – habisan. Hahaha…

“Suruh siapa pake masukin obat perangsang segala, ya gini jadinya….” Sahutku.

“Haaaaaah…. Jahaaaaattttt….” Gumamn

“Hehehehe. Tapi Bibie suka kaaan, katanya terserah aku mau ngapain aja? Inget gak tadi ngomong kaya gituu.”

“Iyaa sihhhh” jawabnya tersipu malu.

Kukumpulkan air mani yang menempel di dagu dan payudaranya. Lalu kuminta Bibie menjilati jariku yang penuh dengan air maniku sendiriku. Ia menjilati jari-jemariku dengan manjanya. Bahkan ketika Maniku sudah habis ia hisap, ia tetap saja mengulu jari – jariku. Geli namun aku suka ia melakukannya.

Kududuk disamping Bibie, kurangkul pundaknya dan kuberikan ciuman tepat dibibirnya. Kami berpagutan namun hanya sebentar. Bibie sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan ciuman kami.

“Lemees yaaah?” Tanyaku.

“Hee heeeh..” Jawabnya

“Tapi masih bisa lanjut koook…” Lanjutnya.

“Tuh lihat! Kontol aku masih ngaceng. Berarti obat yang Bibie kasih emang topcer yah?” Sahutku sambil membelai lembut tubuhnya.

“Hehehe… Iya, Kontol Mas Bastian jadi keras banget…” Sahutnya manja..

“Mau lagi gaaak?”

“Hmmmm”

“Mau gaaaak?”

“Maaauuuuuuu……”

Setelah ia menjawab, aku langsung memegang tangannya dan membalikan tubuhnya dan kusandarkan dipinggir kasur. Tubuhnya berada diatas kasur namun kakinnya masih dibawah lantai. Lalu kubuka belahan pantat Bibie, “Cuiiih” kuberi air liur tepat dilubang anusnya. Kemudian kucolok anusnya dengan telunjuku. Kuputar – putar jariku sampai anusnya sedikit terbuka.

Lalu perlahan kutempelkan Penisku dimulut Anusnya. Lalu mulai kutekan penisku hingga penisku masuk kedalam lubang anusnya. Hangat begitu yang kurasakan. Kudiamkan sejenak penisku didalam duburnya. Lalu kugerakan pinggulku, perlahan, perlahan lalu berubah dengan gerakan yang sedikit kencang. Kusodok terus pantatnya sampai birahiku terkumpul kembali.

Ketika gairahku sudah mulai memuncak kembali kugerakan pantatku semakin kencang. Aku mulai mengangkat tubuh Bibie Keatas hingga kami sama sama berdiri. Puas menyodok pantatnya, kucabut penisku dan langsung kuhujam kedalam Memeknya

Bleeesssss

“Accccccuuuwwwwww…..”

Desah cukup panjang keluar dari mulut Bibie ketika aku menyentak penisku cukup kuat didalam rongga memeknya. Kali ini kugerakan pinggulku secara perlahan namun dengan sentakan yang begitu kencang.

Sleeepppp

Sleeeeppp

Plooook

Plooooook

Pllooookkkk…

Kugenggam kedua tangan Bibie dan menariknya kearahku. Kini tubuhnya semakin condong kedepan. Ahhh. Memek Bibie kembali mencengkram penisku dengan kencang. Ternyata tak hanya tangannya yang ahli memijat, namun bibir dan dinding Memek si Bibie juga jago memijat. Woww.

Hmmmmm….

Cukup lama aku mengocok Memeknya, lalu kembali kuposisikan tubuhnya diatas kasur dan langsung kutindih lagi tubuhku diatas tubuhnya.

Bibie melingkarkan kedua kakinya diatas pinggulku. Mencengkram dengan eratnya seolah tak ingin jauh dariku. Kutempelkan dadaku diatas payudaranya dan bibirku terus menciumi lehernya hingga basah.

“Achhhhhh…”

“Massss……”

“Iyaaaaaahhhhh Bibieeeee.”

“Achhhhh.”

“Kayaknya Saya mau Orgasmeee nnihhhhh… Bisa bareng gaaaaak..”

“Bisaaaaa Bieeee kamu tahan sebentar lagiii yaaaa” sahutku.

“Iyaaaaaahhhh”

Kemudian kusodok lagi dengan kencang memeknya. Pinggulku menyentak kebawah dengan begitu kencangnya. Plok plok plok. Menimbulkan bebunyian yang begitu sensual. Akhirnya aku merasakan lagi aku hendak memuntahkan lahar, bagitu juga dengan Bibi. Getaran di dalam dinding rahimnya semakin kencang dan sangat mencengkram. Layaknya pompa air, memeknya menghisap begitu kencang..

“Achhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”

Desahan panjang keluar dari bibirnya. Bibie mendapatkan Orgasmenya. Nampaknya ini Orgasme puncaknya, karena getaran tubuhnya nampak berbeda dari sebelumnya. Kini aku merasakan semburan hangat dari dalam memeknya. Membuat penisku terasa begitu nikmat, lalu ketika Memek Bibie masih menyemburkan cairannya, akupun mengeluarkan air kenikmatanku. Kuhujam Penisku begitu dalam dan kuhentikan gerakanku.

CROORTT

CROOTT

Aku menumpahkan spermaku dalam liang kenikmatannya. Bibie nampak menikmati cairan hangat didalam memeknya tersebut. Lingkaran kakinya diatas pundaku sudah ia lepaskan dan tubuhnya semakin lemas dan tak berdaya. Ia terkapar mendesah namun tak bersuara. Akupun mengalami hal yang serupa. Tubuhku sudah tak sanggup aku gerakan. Aku hanya tergeletak kaku diatas tubuh Bibie. Sengaja penisku tidak aku keluarkan dari dalam memeknya, biar saja penisku keluar sendiri ketika mulai mengendur.

Entah berapa lama kami melakukan semua ini. Kami berdua sama sama lelah, energi kamu sama sama terkuras. Dan mata kami sama sama terasa berat. Kulihat kedua mata Bibie semakin terpejam. Melihat itu aku juga merasa mengantuk. Akhirnya kupejamkan saja mataku dan tak lama kami sama sama tertidur dengan posisi aku tetap berada diatas.

Author: 

Related Posts