Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 31

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 31by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 31Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 31 CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO Part 5 Lidya POV. Sejenak aku terdiam mendengar perkataan si-mata-keranjang. Namun kemudian rasa panas terasa diwajahku. Darimana dia tahu? Aku menoleh untuk memastikan celana pendek yang aku kenakan tidak robek atau semacamnya. Celanaku baik-baik saja, tidak […]

tumblr_nmjreueY5G1tscgc7o2_540 tumblr_nmltpbtDR41u9p44wo1_1280 tumblr_nmltpbtDR41u9p44wo2_250Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 31

CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO
Part 5

Lidya POV.

Sejenak aku terdiam mendengar perkataan si-mata-keranjang. Namun kemudian rasa panas terasa diwajahku.

Darimana dia tahu?

Aku menoleh untuk memastikan celana pendek yang aku kenakan tidak robek atau semacamnya.

Celanaku baik-baik saja, tidak ada yang robek atau sebagainya.

Kupandang lagi si-mata-keranjang, dan senyum jahil terlihat diwajahnya.

Mas! kataku dengan sedikit kesal.

Jadi bener ya Lid? tanyanya dengan senyum yang terlihat begitu puas.

Orang seperti ini harus dilawan dengan cara yang sama, pikirku.

Iya mas, memang mau ngapain kalau Lidya gak pake? kataku sambil berusaha menampilkan senyum sebinal mungkin.

Kulihat pandangan terkejut dari si-mata-keranjang. Kemudian wajahnya terlihat memerah.

Rasain!

Uhh, dingin ne mas! seruku kepada si-mata-keranjang, sambil menggeliat sesensual yang aku bisa. Dan kulihat si-mata-keranjang menelan ludahnya. Wajahnya memerah.

Emang enak! Kataku sambil tertawa dalam hati.

Kuambil bungkusan pakaian yang ada didalam lemari. Mungkin bisa kubawa kelaundry nanti, pikirku.

Sekarang Kamis, deadline demo proyek sebentar lagi berarti.

Kupandang si-mata-keranjang dan bertanya kepadanya.
Mas, kalau untuk sementara, aku yang koordinasi teman-teman dibagian coding bagaimana? kataku dengan serius.

Hmmmm, mungkin kita perlu cari programmer tambahan lagi Lid, katanya, juga dengan serius.

Tapi kenapa mas? Kan aku juga bisa mengawasi mereka dicoding, dan akupun bisa dibidang transportasi! tukasku.

Ego Lid, ego. Bagian coding semuanya pria, bagaiamana menurutmu jika mereka dipinpin wanita? jawabnya.

Tapi aku kan termasuk leader disini, mereka pasti lebih bisa mengerti, kataku berargumen.

Terlihat si-mata-keranjang berpikir sebentar. Wajahnya yang serius terlihat begitu berbeda dibanding dia yang sedang mesum. Seperti bumi dan langit, kenapa hanya dalam hitungan detik saja, si-mata-keranjang bisa terlihat seperti oran yang jauh berbeda?

Kalau kamu bekerja disana, siapa yang akan menjagaku disini? katanya, dengan wajah memelas.

Kan masih ada Mbak Anisa dan ibu, eh, kenapa harus aku yang menjaga mas? kataku sewot.

Entahlah, tapi kakakku menuyuruhku bertanggungjawab entah atas hal apa dan mereka bilang aku juga sudah punya pacar, yang entah siapa, aku juga bingung jadinya? tanya sambil memasang wajah polos.

Eh, mas, itu cuma kesalahpahaman saja, kataku sambil menunduk. Terlalu malu untuk melihat si-mata-keranjang.

Kesalahpahaman apa? tanya si-mata-keranjang dengan alis yang berkerut ketika aku berani memandang wajahnya.

Itu

Dan akupun menceritakan kejadian tadi, saat aku dan Mbak Anisa, serta ibunya si-mata-keranjang berbincang-bincang, saat aku dikira hamil oleh Mbak Anisa

Hahahahahahahaha, tawa si-mata-keranjang ketika aku selesai menceritakan kesalahpahaman kami.

Wajahnya terlihat begitu ceria. Begitu muda. Senyum jahil lagi terlihat diwajahnya.

Aku hanya bisa memasang wajah masam ketika melihat wajah ceria dari si-mata-keranjang.

Hahaha, pantas saja si-nenek-sihir menyuruhku bertanggung jawab tadi, itu toh penyebabnya, hahaha, kata si-mata-keranjang sambil terus tertawa.

Mas! seruku ketika melihat wajah si-mata-keranjang yang saat ini terus memandangku dengan mata dan mulut yang terus tersenyum.

Iya sayang, katanya sambil menatapku dengan jahil.

Mas, aku serius! kataku dengan nada yang mulai marah.

Aku juga serius, sayang, katanya, lagi, dengan mimik wajah yang membuatku gemas sekaligus kesal.

Sayang-sayang lagi, PDKT aja belum udah mau sayang-sayangan, jawabku asal.

Berarti boleh PDKT nih? tanyanya, entah serius atau tidak.

Sejenak aku terdiam.

Kupandang wajah si-mata-keranjang yang saat ini juga tengah memandangku.

Pandangan kami bertemu, dan sulit aku lukiskan apa yang ada dimatanya. Suasana hening sejenak. Seolah kami sedang meresapi perasaan masing-masing.

Dan…

Brrruuuuutttttttttt, suara nyaring dari gas yang keluar dari dalam tubuh terdengar.

Kulihat wajah si-mata-keranjang dan terlihat wajahnya merah seperti kepiting rebus.

Dan.

Hahahhahaa, aku tertawa puas melihat si-mata-keranjang yang salah tingkah.

Galang POV.

Wajah Jajang semakin menunduk, ketika dia mulai menyadari kesalahan dan kelalaiannya.

Kata bapak yang tadi, kalau malam ada tiga security, dimana teman anda saat kejadian itu? tanyaku.

Teman-teman masih keliling pak, biasanya kami memang berpencar, dalam waktu satu jam, yang mendapat tugas keliling, kembali ke pos sini, untuk digantikan berkeliling pak, jawab Jajang dengan wajah yang terus menunduk.

Kulihat penyesalan diwajahnya.

Mungkin penyesalan yang sudah jauh terlambat. Pikirku.

Bagaimana dengan rekan anda, apakah tidak melihat sesuatu yang mencurigakan? tanyaku lebih lanjut.
Kebetulan salah satunya memang melihat gerak-gerik yang mencurigakan di lantai 9 pak, cuma, kata Jajang dengan sedikit tertegun.

Cuma apa? tanya Herman dengan tak sabaran.

Sekarang dia masih dirumah sakit pak, kata Jajang dengan lemah.

Rumah sakit? Kenapa? tanyaku.

Dia kena pukul pak, oleh orang yang terlihat mencurigakan di lantai 9, jawab Jajang.

Bagaimana kondisinya? Apakah anda tahu? tanya Herman.

Itu, saya kurang jelas pak, kata Jajang.

Her, coba cari tahu, dimana korban dirawat, pintaku pada Herman.

Semakin pelik. Kasus yang semula kelihatan sederhana ini semakin hari semakin pelik saja.

Apa motif dari semua ini?
Biasanya ada tersangka yang dengan mudah bisa kita gali. Tapi ini. Tersangka belum ada sama sekali.

Oh ya, apakah anda melihat siapa yang mengemudikan mobil yang ditumpangi Angel? tanyaku.

Ehmm, tidak pak, saat itu gelap, dan saya, dan saya fokus pada Angel pak, jawabnya sambil menundukan wajah.

Jalan buntu.
Lagi.

Kenapa semua petunjuk yang ada tidak bisa kami telusuri. Kami berdua terdiam sampai Herman masuk kedalam ruangan dan berkata.

Dirawat dirumah sakit yang sama seperti Andri, Lang, katanya singkat.

Nanti kita cek kesana Her, sekarang kita lihat dulu TKPnya, jawabku.

Mas Jajang, bisa panggilkan bapak yang tadi ada disini? pintaku kepada Jajang.

Iya pak, sahutnya pelan sambil berjalan keluar.

Kasihan.

Gara-gara kenikmatan sesaat, berujung panjang. Kupandangi sekeliling ruangan, sebuah ruangan security yang cukup komplit. Selain monitor pengawas untuk CCTV. Ada sofa, mungkin untuk istirahat security, ada dispenser dan lemari pakaian. Cukup nyaman. Dengan kaca riben, memang agak sulit bagi orang luar untuk melihat kedalam. Pantas Jajang bisa main dengan nyaman.

Tak berapa lama, bapak yang tadi masuk, tanpa diantar Jajang.

Ada yang bisa saya bantu lagi pak? Tanyanya ramah.

Bisa pinjam akses card liftnya pak? Kami mau ngecek ke TKP, balasku.

Ouwh, bisa pak, katanya sambil berbalik dan mengambil sebuah akses card yang ada di laci, lalu memberikannya kepadaku. Ini pak, ini akses card security, jadi bisa langsung digunakan untuk membuka pintu ruangan TKP katanya.

Terimakasih atas kerjasamanya pak, kataku sambil berbalik menuju kearah gedung Apartemen Chapista.

Kami naik lift menuju ruangan 903. Kamar Andri. Dalam hal ini, korban.

Garis polisi masih ada di pintu ruangan korban, kubuka pintu menggunakan akses card yang diberikan security tadi.

Pintu terbuka dan sebuah ruangan yang elegan menyambut kami.
Dengan warna putih yang mendominasi, diselingi warna biru. Apartemen ini berkesan tenang dan nyaman. Diruang tamu ada meja dan kursi, sebuah sofa, lemari dan satu set televisi beserta play station dan audio. Aku melangkah melewati ruang tamu, kearah kamar tidur yang terasa begitu lega. Seperti ruang tamu, kamar tidur dihiasi ranjang berukuran kingsize. Disisi ranjang, ada meja berisi buku dan perlengkapan menulis, disisi yang lainnya, ada sebuah meja kecil, yang terlihat kosong.

Mungkin disana tempat laptop dari Andri.

Warna biru dan putih mendominasi ruangan, ruang tidur ini berdampingan dengan kamar mandi. Disebelah timur, terdapat kaca jendela yang menghadap ke pos satpam yang tadi. Tirai masih tertutup, namun sinar matahari terlihat melejit dari sela-sela tirai yang tersingkap.

Her, darimana kau tahu yang hilang hanya sebuah laptop saja? tanyaku kepada Herman, melihat ruangan yang begini luas.

Ada petugas cleaning service yang biasanya bertugas disini bilang kepada anak buahku, jawab Herman sambil melihat-lihat sekeliling ruangan.Andri katanya selalu menaruh laptop disini, jelas Herman.

Hmmmm, selalu? Kenapa dia tidak bawa laptop saat kerja.

Aneh, gumamku tak sadar.

Apa yang aneh Lang? tanya Herman.

Kenapa dia tidak membawa laptop saat kerja? sanggahku.

Mungkin dia punya beberapa laptop,jawab Herman.

Hmmmm, mungkin saja. Pikirku.

Kami melangkah kekamar mandi. Tidak ada sesuatu yang menonjol disana, hanya bathub dan shower yang terbuat dari kaca, cukup mewah. Selanjutnya kami menuju kedapur. Disana ada sebuah tangga melingkar yang menuju kebawah. Aku dan Herman saling pandang. Seperti sudah sepakat, kami melangkah menuju kebawah.

Dan wow….

Buku-buku dengan rapi ada diruangan ini, disusun dalam beberapa lemari besar,yang membentuk persegi dengan ruangan yang cukup besar ditengahnya. Sementara itu, dipojok lain, ada sebuah komputer yang lengkap dengan peralatan games dan didinding, berderet dengan rapi puluhan atau mungkin ratusan atau mungkin juga ribuan DVD film.

Ada kolektor film rupanya? kata Herman sambil melihat satu persatu DVD yang ada didinding.
Semuanya asli Lang! seru Herman, sedikit terdengar nada kagum dalam suaranya.

Uhuh…, kataku, lebih tertarik dengan buku-buku yang ada dilemari. Segala jenis buku ada disini, namun sebagian besar didominasi buku bergenre detektif, komputer dan seks!

Sedikit heran aku dengan koleksi CEO G-Team ini. Orang seperti apakah sebenarnya dia? Kuteringat sesuatu dan menuju meja komputer yang ada disudut ruangan. Kucoba menyalakan dan terdapat pesan kalau tidak ada drive yang terpasang.

Tidak hanya laptop yang hilang, kataku kepada Herman.

Maksudmu apa Lang? Tanya Herman dengan penasaran.

Kutunjukan kepadanya pesan tidak ada drive yang terpasang dikomputernya.

Artinya apa Lang? tanya Herman dengan bingung.

Artinya, ada orang atau orang-orang yang ingin menghilangkan apapun yang ada di laptop dan atau komputer kepunyaan Andri, sahutku.

Hmmm, apa yang mereka mau?

Rasanya sudah cukup Her, mari kita kerumah sakit sekarang, kataku sambil melangkah menaiki tangga. Kulihat lagi koleksi buku yang banyak dari Andri, ketika aku melihatnya.

Sebuah benda yang terletak diatas salah satu lemari. Benda yang menghadap kearah meja komputer.

Andri POV.

Aduhhhhhh,,,, ne gas keluar disaat yang tidak tepat. Pikirku.

Kulihat si-celana-dalam-putih tertawa dengan bebasnya.

Dan sejenak dia terlihat begitu berbeda. Dia yang biasanya seperti menjaga jarak, dia yang punya beban berat dipundaknya, dia yang marah karena kelakuanku. Sekarang terlihat begitu bebas, begitu lepas.

Sisi lain yang baru kutemui sekarang.
Sisi lain yang ingin kutemui lebih sering dan lebih lama lagi.

Lid, ambilin minum dong, haus neh, kataku sambil memasang wajah memelas.

Oh iya, sudah boleh minum ya mas? katanya menggodaku.

Sejak kapan dia mulai bisa menggodaku?

Ciuman aja udah boleh, apalagi yang lain, kataku dengan wajah yang kucoba buat menjadi tanpa ekspresi.

Huftttt,dasar mesum, katanya sambil melangkah keluar.

Lidya beli minum dulu ya mas, sekalian cemilan, katanya sambil melangkah keluar dalam balutan celana pendek tanpa daleman itu!.

Kuperhatikan si-celana-dalam-putih sampai menghilang dari pandangan.
Sekarang saatnya.

Kuambil handphone yang tadi dibelikan Frans dan mulai memanggil nomer handphone lamaku. Seperti kecurigaanku.

Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah menghubungi beberapa menit lagi…

Hanya itu yang kudengar. Kuambil laptop yang tadi kuletakkan. Kubuka file Trojan.avi yang dikirimkan Ade. Kalau dugaanku tepat. Ini adalah steganografi. Tapi apa dan bagaimana?

Spoiler for Pengertian Steganografi:

Steganografi adalah seni dan ilmu menulis pesan tersembunyi atau menyembunyikan pesan dengan suatu cara sehingga selain si pengirim dan si penerima, tidak ada seorangpun yang mengetahui atau menyadari bahwa ada suatu pesan rahasia. Sebaliknya, kriptografi menyamarkan arti dari suatu pesan, tapi tidak menyembunyikan bahwa ada suatu pesan. Kata “steganografi” berasal dari bahasa Yunani steganos, yang artinya tersembunyi atau terselubung, dan graphein, menulis.

Kini, istilah steganografi termasuk penyembunyian data digital dalam berkas-berkas (file) komputer. Contohnya, si pengirim mulai dengan berkas gambar biasa, lalu mengatur warna setiap pixel ke-100 untuk menyesuaikan suatu huruf dalam alphabet (perubahannya begitu halus sehingga tidak ada seorangpun yang menyadarinya jika ia tidak benar-benar memperhatikannya).

Pada umumnya, pesan steganografi muncul dengan rupa lain seperti gambar, artikel, daftar belanjaan, atau pesan-pesan lainnya. Pesan yang tertulis ini merupakan tulisan yang menyelubungi atau menutupi. Contohnya, suatu pesan bisa disembunyikan dengan menggunakan tinta yang tidak terlihat di antara garis-garis yang kelihatan.

Teknik steganografi meliputi banyak sekali metode komunikasi untuk menyembunyikan pesan rahasia (teks atau gambar) di dalam berkas-berkas lain yang mengandung teks, image, bahkan audio tanpa menunjukkan ciri-ciri perubahan yang nyata atau terlihat dalam kualitas dan struktur dari berkas semula. Metode ini termasuk tinta yang tidak tampak, microdots, pengaturan kata, tanda tangan digital, jalur tersembunyi dan komunikasi spektrum lebar.

Tujuan dari steganografi adalah merahasiakan atau menyembunyikan keberadaan dari sebuah pesan tersembunyi atau sebuah informasi. Dalam prakteknya, kebanyakan pesan disembunyikan dengan membuat perubahan tipis terhadap data digital lain yang isinya tidak akan menarik perhatian dari penyerang potensial, sebagai contoh sebuah gambar yang terlihat tidak berbahaya. Perubahan ini bergantung pada kunci (sama pada kriptografi) dan pesan untuk disembunyikan. Orang yang menerima gambar kemudian dapat menyimpulkan informasi terselubung dengan cara mengganti kunci yang benar ke dalam algoritma yang digunakan.

Hanya ada video seorang gadis yang sedang memblowjob seorang pria, video biasa. Berdurasi 3 menit 33 detik dan berasal dari X-Art. Namun sizenyanya mencapai 50 mb. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan didalamnya.

Tunggu, X-Art!

Kenapa aku begitu bodoh. Tapi apakah begitu sederhana? Dengan modem yang masih terhubung kelaptop. Aku mencoba mencari beberapa tool untuk mengekstrak video ini dengan kata kunci tools, X.

Ada beberapa pilihan, aku mencoba yang pertama. Dan dengan mudah aku bisa mengekstrak sebuah file .rar dari dalam video ini.

Oke, satu masalah sudah selesai, sekarang tinggal membuka file ini, dan…

Mas, mau minum sekarang? kata si-celana-dalam putih yang baru datang dengan sebotol air mineral dan beberapa buah cemilan.

Boleh Lid, kataku sambil menyembunyikan file yang kutemukan dilaptop.

Aduh mas, baru saja baikan sudah pakai laptop lagi, katanya sambil merebut laptop dari tanganku.

Mas! Kenapa si cowok gak bosan-bosannya lihat film beginian? katanya dengan nada marah.

Waduh!!! Aku lupa menutup file video yang dikirimkan Ade. Mati aku!

Eh, itu bukan film, eh, itu bukan film seperti yang kamu kira, kataku sedikit gugup.

Lalu apa mas? Aku sudah cukup besar untuk tahu film apaan yang mas tonton ini, katanya dengan mata yang masih marah. Wajahnya, lagi, kelihatan begitu menantang kalau lagi marah.

Iya Lid, bahkan sudah cukup besar untuk ngelakuin itu, gumamku.

Apa mas? tanyanya sambil mendekat dan menghendaki aku untuk mengulang apa yang kukatakan tadi.

Eh, gak ada kok, eh, mana minumannya? kataku mengalihkan perhatin.

Gak boleh minum, siapa suruh nonton gituan, katanya dengan marah.

Yah Lid, apa salahnya nonton gituan? kataku bingung.

Salahnya gak ngajak-ngajak aku? katanya sambil tersenyum.

Gubraakkkkkk…..

Dengan wajah bengong aku memperhatikan si-celana-dalam-putih. Apa aku tidak salah dengar? Dan kenapa si-celana-dalam-putih bisa akrab begini denganku. Bukan, bukannya aku tidak suka, namun hanya terasa begitu cepat dan aneh.

Ini minumnya mas, katanya dengan lembut. Dengan cekatan dia menyerahkan sebotol air mineral yang sudah diisi sedotan.

Kuminum air yang diberikannya, tidak berani terlalu banyak. Aku pandang lagi si-celana-dalam-putih. Sekarang dia mengambil sapu tangan dari celananya dan menyeka keringatku.

Tunggu. Ada yang salah.

Mas, nanti boleh aku yang mimpin bagian codingnya ya? katanya sambil tersenyum manis.

Alamak ini rupanya penyebabnya.

Eh, iya deh, kataku. Sudah kalah dari awal.

Dengan senyum dikulum, si-celana-dalam-putih menyeka lagi keringat yang ada di wajahku. Wajahnya begitu dekat, senyumnya begitu menggoda.

Aku tak tahan lagi.

Kuraih wajahnya mendekat dengan tangan kananku, kurasakan sedikit penolakan. Kutambah lagi tekanan dikepalanya, sekarang, bibir kami hanya berjarak satu dua centimeter.
Dekat, semakin dekat.

Kau ikat diriku Dengan indahmu
Yang berharga bagi Kita semua
Ini indahmu Tak jauh hilang
Terkubur dalamnya lara
Dalam luka dalam duka

Aku bukan malaikatmu
Yang akan selalu ada
Disampingmu sepanjang waktu
Ingin bebas

Eh, sebentar mas, kata si-celana-dalam-putih.
Wajahnya berubah serius ketika nada dering lagu malaikatmu itu terdengar nyaring dari handphonenya.

Dia melangkah ke pojok ruangan lalu mengangkat teleponnya.

Samar-samar bisa kudengar percakapannya.

Kenapa Shin?, … tidak ketemu?,…sindikat…, ….Sherly…,sekarang? Kesini?

Hanya itu beberapa potongan kata yang bisa kudengar. Wajah si-celana-dalam-putih berubah menjadi pucat, marah, sedih dan entah perasaan apa. Kulihat dia menutup panggilan dan menarik nafas panjang. Apapun yang didengarnya itu, pasti sangat penting baginya. Dia mendekat, dengan wajah yang sulit kutebak.

Mas, nanti ada anggotaku lagi satu mau kesini ya? katanya dengan lembut.

Kenapa Lid? Kalau ada masalah, ceritakan saja, jangan dipendam, kataku.

Iya, ceritakan, jangan sepertiku, yang selalu memendamnya.

Aku baik-baik saja mas, im fine,katanya dengan pandangan menatap keluar dari jendela.

No, youre not.

Siapa Sherly? kataku, tak bisa menahan rasa penasaranku. Kulihat tubuhnya tersentak ketika aku menyebut nama itu.

Bukan siapa-siapa mas, jawabnya sambil melangkah mendekatiku dan duduk dikursi yang ada disamping ranjang. Tangannya sekarang lagi menyeka dahiku yang memang sedikit berkeringat. Kulihat matanya sedikit merah, menahan gejolak dihatinya.

Sialan.

Kutarik wajahnya mendekat, dan bibir itu, bibir yang terlalu lama menggodaku akhirnya menempel dibibirku.

Hangat, basah.

Bisa kurasakan si-celana-dalam-putih menegang ketika bibirnya bersentuhan dengan bibirku. Namun dengan lenguhan pelan dari bibirnya, perlahan kurasakan tubuhnya melembut. Bibir itu terasa begitu lembut. Begitu menggoda. Tanganku yang semula dikepalanya, perlahan kulingkarkan di pundaknya, menariknya mendekat.

Namun tiba-tiba dia menarik kepalanya menjauh.

Raut bingung, marah, dan entah ekpresi apalagi menghiasi wajahnya, wajah yang sekarang bersemu merah. Kulihat matanya memancarkan gejolak dihatinya.

Mas, katanya lirih sebelum wajahnya mendekat.

Sekarang giliranku yang terkejut dengan ciumannya yang begitu tiba-tiba. Bisa kurasakan dia mencoba menyalurkan semua perasaannya dalam ciuman ini.

Bibirnya yang tadi begitu lembut, sekarang menuntut, menagih.

Kuimbangi ciumannya yang ganas, lidahku menyeruak masuk kedalam bibirnya yang terbuka. Lidahnya menyambut dengan sama menununtutnya, saling belit, saling meminta. Bisa kurasakan semua perasaanya saat ini ingin dituangkannya dalam ciuman yang panjang dan basah ini.

Uhhhh, mas, lenguhnya lembut.

Satu lenguhan yang cukup membuat aliran darahku meningkat dan detak jantungku semakin cepat. Tak bisa kutahan lagi tanganku yang semula melingkar dipundaknya, turun kebalik baju yang dikenakannya dan menyeruak keatas, menuju payudara yang mengintip dari sela-sela pakaiannya yang terbuka. Kulit perutnya terasa begitu lembut, begitu halus. Dan sedikit lagi…

Kriiieeekkkk, suara pintu terbuka dan.

Siaang, su..dah ma..kan, suara si-nenek-lampir mengagetkan kami.

Eh, harusnya aku ngetuk pintu dulu ya? katanya tanpa merasa bersalah.

Mbak, bagaimana sekarang? tanya seorang gadis kepada rekannya yang lebih tua.

Kita lihat saja dulu, belum ada intruksi lebih lanjut dari dia, jawab rekannya.

Tapi polisi sudah sempat kemari, apa tidak berbahaya tetap melakukan kegiatan mbak? tanya sigadis dengan wajah yang takut.

Tidak apa-apa, justru kalau kita berhenti, mereka akan curiga jawab gadis yang lebih tua.

Kalau begitu, kasi aku melakukan yang mbak lakukan, pinta gadis yang lebih muda.

Kamu baru mulai, masih perlu waktu, jawab yang lebih tua dengan sabar.

Bagaimana dengan handphonenya? tanya seorang lelaki ditelepon.

Sudah diurus, kata siwanita singkat.

Laptop dan komputernya?

Sudah juga, kata siwanita dengan tak sabar.

Bagus, untuk sekarang, kembali ketempatmu seperti biasa, tunggu panggilan nanti, suara ditelepon itu
terputus. Dan siwanitapun melangkah kepintu.

Eh, bagaimana denganku? tanya seorang lelaki yang bersama siwanita tadi.

Terserah, aku mau pulang dulu, mandi, kata siwanita sambil beranjak pergi.

Aduh, kentang lagi, gerutu silelaki.

Author: 

Related Posts