Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Enam – Part 21

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Enam – Part 21by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Enam – Part 21Enam – Part 21 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Enam Yan, kelas kamu kapan ke Ciwidey? Akhir pekan ini, kenapa Ka? Hahahaha, Atika juga mau ke Ciwidey, ama keluarga si papah. Sama akhir pekan ini. Wah, hahaha, meni pas. Mau kemana emang? Gak tau, yaaa ngikut aja deh. Malam itu Atika terlihat cantik dengan […]

tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o5_400 tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o6_400 tumblr_nvbeqkiFN31u10ny7o7_400Enam – Part 21

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Enam

Yan, kelas kamu kapan ke Ciwidey?
Akhir pekan ini, kenapa Ka?
Hahahaha, Atika juga mau ke Ciwidey, ama keluarga si papah. Sama akhir pekan ini.
Wah, hahaha, meni pas. Mau kemana emang?
Gak tau, yaaa ngikut aja deh.

Malam itu Atika terlihat cantik dengan balutan jilbab putih dan sweater berwarna putih pula. Rok SMA nya masih di pakai. Mereka baru saja menikmati euforia kelulusan bersama-sama di sekolah tadi pagi hingga siang. Dan memutuskan untuk jalan-jalan keliling kota Bandung dengan tanpa arah tujuan yang jelas.
Sampai di rumah Atika setelah pukul 19. Dan langsung naik ke lantai dua, menuju kamar Atika. Di lantai atas itu hanya ada Atika dan adiknya yang masih duduk di bangsku Sekolah Dasar. Ibunya seorang guru dan ayahnya bekerja di sekolah yang sama dengan ibunya, namun sebagai seorang Tata Usaha.
Kamu cantik Ka. Tiba-tiba Rian berucap, pelan, namun jelas terdengar.
Wajah putih Atika bersemu merah. Tersenyum, tulus, manis. Ah, senyuman itu, manis, tulus, namun tiba-tiba bibir Revi terlintas jelas di mata Rian. Mana yang lebih indah batinnya.

Hayooo, mikirin apa?
Hahaha, engga, mikirin itu kenapa bibir kamu bisa manis kaya gitu.
Idiihh, mulai deh. Tar lama kelamaan nanya, kenapa rasanya juga manis. Hahaha.
Loh, ko tau? Bapak kamu peramal ya?
Garing ah.
Hehehe, tapi emang manis ko rasanya. Sini.
Apa? Sini-sini, sini kalo berani, hehe.

Dan Rian langsung bangkit mengejar kekasihnya itu, Atika berusaha menghindar, namun tak sepenuh hati. Rian kemudian memeluk Atika, erat, mencium dan menghirup wangi kepala Atika dari balik kerudung. Kemudian mencium bibirnya, lembut.
Udah berapa orang yang menikmati bibir indah ini Ka?

Jujur?
Jujur.
Dua, mantan Atika dulu dan Rian.
Rian terdiam, cemburu terlintas jelas di wajahnya.
Tapi udah dia nyium Atika, besoknya Atika putusin, hehehe.
Jadi dia baru nyium dia sekali itu?
He eh.
Berarti dia belum pernah mengang ini? Sambil tangan kanan Rian meremas buah dada kiri Atika.
Ah, nakal deh Riannnn. Mmmmmmm.

Bibir Rian kembali melumat bibir Atika. Manja, Atika mengalungkan kedua tangannya pada leher Rian, mereka berciuman sambil berdiri lama. Tangan Rian mulai memainkan bongkahan pantat Atika yang bulat, meremasinya. Jari tengah Rian terkadang bermain mengikuti belahan pantat Atika, menekannya. Senang ketika Atika merintih dan merengek dibuatnya.
Hampir lima menit mereka berciuman bibir, saling melumat, menjilat, menggigit. Lidah mereka bersatu dalam tarian indah, pelan, perlahan, melantun mengikuti irama jantung. Tangan Rian kini mulai aktif meremasi bongkahan dada Atika yang bulat dari luar sweaternya.
Ahhhhhhmmmmmm, mmmm, slurp. Atika hanya bisa mendesah, dan menikmati permainan tangan Rian di dadanya, merasakan lidah Rian yang bermain di rongga mulutnya.

Sampai Rian melepaskan ciuman, refleks bibir Atika mencari bibir Rian, namun Rian tetap melepaskan ciumannya, tangannya kini meraih ujung sweater Atika, menariknya ke atas. Terus, melewati ketiaknya, kepalanya hingga lepas dari badan Atika.
Secara refleks Atika menutupi sepasag buah dadanya yang masih menggunakan BH dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah, malu dan nafsu bercampur menjadi satu. Rian meraih dagu Atika, mengangkatnya, kemudian bibir mereka kembai bertemu. Mesra mereka berciuman, saling berpagut.
Rian meraih punggung Atika, melepas kaitan BH nya hingga lepas. Kemudian Rian melepaskan BH Atika diikuti Atika yang langsung memeluk Rian, menempelkan kedua bongkahan indah itu ke dada Rian, karena malu. Namun Rian mendorong tubuh Atika, indah, pikir Rian, bulat, putih, mulus dengan puting berwarna pink yang sudah menonjol.

Atika menundukan wajahnya karena malu. Baru pertama kali ini ada lelaki yang melihat keindahan buah dadanya. Tangan Rian bergetar, meraih buah dada Atika, menyentuhnya, perlahan meremasnya.
Aaaahhhhhhhh. Atika mendesah. Menambah nafsu Rian mendengarnya. Tangannya mulai meremas lebih keras. Riaaannnnnnnnnnn, enggggggg. Geli.
Geli sayang?

Atika mengangguk. Aaaaahhhhhhhhhhhhhhh. Kembali mendesah kala Rian kini memilin kedua putingnya. Dan Atika kembali melenguh keras, ketika Rian mulai menciumi buah dada kanan Atika. Hmmmmmmmmmm, ssssssssssss, geliiiiii, aaaaahh. Rian, diapain puting Atikaaa?
Rian terus mencium puting pink Atika, menjilatinya, kembali menciumnya, melumat habis buah ada Atika yang menggemaskan.
Kaki Atika gemetar, sudah tidak kuat menopang tubuhnya yang semakin lemas, merasakan sensasi luar biasa yang baru kali ini dia rasakan.
Rian menyadari hal ini, dan dia membimbing Atika ke arah ranjang, mendudukan Atika, kemudian mencium bibir Atika. Kembali melumatnya. Kali ini ciuman mereka semakin bernafsu, suara mereka terdengar mendengus dan desahan mereka terdengar jelas.

Jika saja orang tua Atika naik ke atas, bahkan dari luar kamar pun suara mereka terdengar jelas. Atika terus saja merintih dan mendesah, karena selain permainan lidah Rian di dalam mulutnya, tangan Rian pun tak henti-hentinya mempermainkan dada dan puting Atika. Membuat Atika bergelinjang tak karuan.
Ingin lebih, Rian kemudian membaringkan Atika, lalu menindihnya seperti kemarin. Namun kali ini, Atika menggunakan rok, sehingga mudah sekali bagi Rian untuk mengangkatnya dan mulai mengelus paha Atika yang putih mulus. Bibirnya kini menjilati buah dada Atika, membuatnya basah, melumatnya, menyedotnya, dan mengigitnya. Atika tak karuan dibuatnya. Desahan dan rintihannya jelas terdengar.

Riaannnn, enggaak, gak disitu, jangaaaaannnn. Ahhhhhh, Rian, geli, geli banget, aaahhhhhhhhh, pelan, sakit.
Namun Rian jelas tidak mau berhenti, tangannya yang kini sedang mempermainkan kemaluan Atika dari luar CD nya jelas tak mau pergi. Rian puas melihat Atika yang menolak tapi tidak bisa berbuat lebih. CD Atika sendiri sudah terasa lembab. Perlahan jarinya menyibakan pinggiran CD Atika, dan kini, jari tengah Rian sudah mempermainkan belahan vagina Atika.

Sssshhhhhhhh. Udah Rian, ahhhhhh, aaaahhhhhhhhh. Awasin tangannya, Atika mau … mmmm … aahhh.
Rian merasakan cairan dari vagina Atika keluar lebih banyak, setelah hampir tujuh menit jarinya bermain di bibir dan lubang vagina Atika, dan memainkan klitorisnya.
Atika menegang, orgasme pertama yang dia rasakan karena permainan jari lelaki di vaginanya. Keringat mengalir di wajahnya, nafasnya ngosngosan. Mukanya merah sangat, jilbabnya acak-acakan, dan kemudian dilepas oleh Atika, tanggung, pikirnya. Rambut panjangnya terurai, Cantik. Kamu memang cantik. Rian memmuji, dibalas oleh senyuman Atika. Terusin ya? Atika hanya diam mendengar pertanyaan Rian, Diterusin gimana lagi? Pikirnya, dan pertanyaannya terjawab, ketika Rian memposisikan tubuhnya untuk kembali melakukan peting. Ditekannya kemaluan Rian pada kemaluan Atika.
Aduh, sakit Yan!

Rian terdiam, lalu berkata, Jelas, kamu cuman pake CD doang, bentar, Rian buka celana dulu. Dan langsung Rian menurunkan celananya, sehingga kini dia hanya menggunakan CD, lalu kembali menaiki Atika, dan mereka memulai peting mereka.
Selama peting, tak hentinya Rian melumat buah dada Atika, bibir Atika, dan puting Atika bergantian, dan Atika pun tak berhenti merintih dan mendesah, keadaan ini dimanfaatkan Rian untuk melepas CD nya, sehingga kini penisnya yang sudah teramat tegang dan keras itu langsung menekan belahan vagina Atika dari luar CD nya.
Atika merasakan hal ini, namun dia tidak protes, rasanya lebih nikmat. Buka CD nya ya sayang?
Gak ah, jangan, takut hamil.

Hahaha, gakan dimasukin ko, percaya deh.
Butuh waktu beberapa saat bagi Rian membujuk Atika hingga akhirnya Atika mau, Rian hendak duduk dan membuka CD Atika namun Atika meraih tangan Rian, Jangan liat, malu, biar Atika aja. Kemudian dengan posisi masih di bawah Rian, Atika melepaskan CD nya.
Rian kembali mencium bibir Atika, dan mendekatkan penisnya ke vagina Atika yang becek. Menempelkan penis itu di vagina Atika, menekannya, menggesekkannya.
Aaahh, ennaak Ka?

Hah hah, he eh, enakkk, ahhhh. Ahh, Rian, Atika kenapa? Enak bangettt.
Nikmatin aja sayang. Rian mengecup kenig Atika. Dan kembali menggesekkan penisnya, kali ini lebih cepat dan keras. Hingga akhirnya Atika kembali merasakan orgasme. Kepalanya menengadah ke atas, kakinya mengangangkat, menekan kasur keras, Rian sendiri saat itu sudah hampir keluar, dan dorongan pinggul Atika ke atas menambah rasa nikmat yang dirasa Rian, hingga tak lama setelah tubuh Atika kembali terhempas di kasur, Rian mengangkat pinggangnya, dan, crrooootttt. Banyak sekali spermanya yang mendarat di atas perut Atika yang putih dan rata.
Iiihhhh, apaan itu? Jorok ih, Rian mah, bersiin. Atika panik.
Hahahahaha, iya, entar Rian bersiin.
Rian bangkit menuju meja Atika, mengambil tisu, kemudian mengelap habis seluruh sperma yang ada di perut Atika. Kemudian Rian mencium bibir Atika. Makasih sayang, I love you.
I love you too. Mereka kembali berciuman, dan kembali Rian menaiki Atika untuk ronde dua.

==========
Revi memandangi HP nya, Kirim jangan, kirim jangan, kirim jangan?
Pesan itu singkat, yang intinya dia ingin ketemu. Namun Revi masih ragu. Memejamkan kedua matanya, kemudian menekan send.

==========
Hati-hati sayang.
Iya, udah gih masuk, Rian pulang dulu. Dah Atikaaa.
Dah.
Rian melaju pergi meninggalkan rumah Atika, sampai HP nya berbunyi.
Yan, besok ada acara? Kalo gak, main ke pinggiran ya? Orang rumah lagi pada ke Jakarta.
Revi, pikir Rian. Dan besok rumahnya kosong. Pikiran ngeres langsung terlewat. Lalu pikiran paling menakutkan melintas. Atika atau Revi.

——bersambung——

Author: 

Related Posts